…
Manuke, manuke cucak rawa,
Cucak rawa, dawa buntute
Buntute sing akeh wulune,
Nek digoyang, Serr,
Aduh enake!
…
Lagu Cucak Rawa begitu popular belakangan ini. Nada
lagu yang sederhana dengan ketukan standar ini tinggal digubah
liriknya, maka serta-merta bisa menjadi lagu siapa saja. Selain pramuka,
milisi, dan tentara – yang punya versi masing-masing – kelompok anti politisi busuk
pun meminta Franky Sahilatua membuat parodinya. Namun tulisan ini tak
hendak membicarakan lagu ini. Tak lain karena lirik seksis lagu tersebut
menarik karena menggunakan symbol burung cucak rawa berekor panjang
berbulu lebat, yang dalam lirik lengkap lagu ini bisa membuat si perawan
menangis ketakutan. Begitukah?
Kejantanan
seorang pria sering dihubungkan dengan hal-hal seputar “Kampung
Bawah-nya”. Metafor lain untuk kelamin. Tentu saja teori ilmiah
membantah mitos tersebut. “Size Doesn’t Matter” , kata orang ilmiah. Dr.
Agus Syarif SpOG, seorang ginekolog, mengatakan, “Hubungan seks
cenderung diartikan sekadar hubungan fisik, padahal ada yang lebih
penting dari itu, yaitu sebuah hubungan yang bersifat psikis”. Namun
realita berkata
lain. Para lelaki yang merasa kurang pede akan berupaya meng-up grade
alat kelaminnya agar lebih panjang, besar, keras, cepat tegang,
dan tahan lama. Sejujurnya, urusan gundul-gondrongnya jembut si cucak
rawa tidak begitu dipedulikan. Untuk semua itu, mereka rela menempuh
berbagai cara dan mahal karena sungguh berharap pasangannya senang,
bukan malah menangis seperti si perawan lagu Cucak Rawa itu.
Erot-isme dan “Kebangkitan Arus Bawah”
Tersebutla
di Desa Caringin, Cisolok, Sukabumi, seorang perempuan renta, tapi
justru mampu menolong pria menjadi perkasa. (Mak) Erot namanya. Nenek
tersebut mempunyai keahlian khusus untuk mengoptimalkan ukuran dan
kinerja penis. Ilmu istimewa itu ia peroleh dari Sang Ibunda, (Mak)
Layi. Konon dalam sebuah mimpi, Mak Layi menerima Siloka, amanat tersamar dari Karuhun atau nenek moyang untuk “Mengobati orang yang sudah mati, hidup kembali”.
Setelah cukup lama bertanya-tanya, tahulah Mak Layi apa yang dimaksud
dengan “Orang mati” dalam mimpinya. Tak lain adalah alat kelamin pria
yang sudah tidak mampu lagi “bekerja”. Mak Layi memang tidak melakukan
pengobatan, tetapi dia mengajari Mak Erot bagaimana caranya. Dan Mak
Erot mulai mengamalkan ilmunya sejak tahun 1945. Hingga kini metode yang
dipakainya tidak pernah berubah, yaitu kombinasi urut, mantra warisan, lemang, terong hutan, ramuan 42 jenis akar-akaran, dan beberapa pantangan.
Berikut
adalah contoh prosesi modifikasi penis tersebut. Awalnya pasien
diperiksa, diurut, kemudian diharuskan menghabiskan lemang, yaitu makanan
sejenis lontong yang direbus dalam potongan bambu. Ini bukan bambu
sembarang bambu. Ukuran potongan bambu mewakili ukuran penis yang
dikehendaki pasien. Setelah itu pasien didiminta menjalankan keharusan dan pantangan
tertentu. Ia harus makan buah terong hutan kecil yang dipercaya hanya
tumbuh di hutan Cisolok dan pekarangan/halaman rumah Mak Erot. Pasien
juga harus menjalani pantang makan tiga hal seumur hidup, yaitu pisang
emas, daun sereh, dan terong panjang. Yang penting lagi, ia harus
bersedia untuk tidak melakukan hubungan seksual dalam jangka waktu
tertentu selama pengobatan.
Tertarik? Anda
tak perlu jauh-jauh pergi ke Cisolok. Praktek pengobatan Mak Erot
dibuka di banyak tempat di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan acapkali
menggelar praktek di hotel-hotel tertentu. Iklan pengobatannya
bertebaran di banyak media cetak metropolitan. Sementara, rumor
mengabarkan bahwa Mak Erot yang asli sudah tiada. Namun H. Baban
Mustofa, salah seorang cucu dari putra ketiga Mak Erot mengatakan,
“Sampai saat ini beliau masih segar bugar. Bisa dicek Mas”. Dalam sebuah
iklan di Majalah Misteri 2001, disebutkan sang nenek berusia 120 tahun.
Kalau benar begitu, usia Mak Erot saat tulisan ini dimuat di Majalah
Jakarta (2004), adalah 123 tahun. Kiranya, Mak Erot perlu juga
membeberkan rahasia agar bisa berumur panjang.
[Mendengar
kabar beliau wafat (5 Juli 2008), tulisan ini saya munculkan lagi
sebagai penghormatan atas jasa beliau dalam upaya menguri-uri tradisi Karuhun. Turut berduka cita sedalamnya kepada keluarga yang di tinggalkan; Marto Art]
Ilmunya, atau rahasia Siloka itu – sebut saja Erot-isme – tetap diteruskan keturunannya, atau yang mengaku keturunannya. Yang terakhir disebut tadi memang marak dan menjadi keprihatinan H. Baban. Tidak sedikit yang mengklaim demikian dan memakai brand name terpercaya “Mak Erot” karena membawa laba yang besar. Mahar (Istilah dunia paranormal untuk “Pembayaran/Harga”) sebuah lemang, biaya
administrasi, dan sebagainya bisa mencapai Rp. 500.000,00. “Itu sih
sah-sah saja, kami tidak mau memonopoli bisnis ini, asal ada tanggung
jawab kepada pasien Mas”, kata H. Baban. Profesionalisme ini dijaga oleh trah
Mak Erot. Pernah suatu kali terjadi kesalahan pengobatan pada seorang
pasien yang minta agar penisnya diperbesar. Pasien yang sehari-hari
bekerja di sebuah stasiun televisi swasta ternama itu mengeluh, karena
hasilnya justru bertambah panjang. Maka dengan penuh dedikasi,
digaraplah penis sesuai order semula (diperbesar). “Jangan membuat
pasien kecewa, usahakan yang datang puas, sehingga kita dipercaya”, kata H. Baban sedikit berpromosi.
Rupanya,
itu pernah terjadi. Pada tahun 1996-1997, saat klinik masih berada di
Ujung Aspal, Pondok Gede. Adalah seorang Umar Rusmadi (56), pasien asal
Medan (H. Baban mengaku lupa nama marganya) datang berobat akibat
impotensi yang disandangnya selama lima tahun. Semabri mengurut, seperti
biasa H. baban dengan penuh taklim menyampaikan
apa yang harus dipantang sang pasien. Salah satunya adalah menjaga
kesabaran untuk tidak melakukan hubungan seksual selama tiga hari
pertama pengobatan. Serta-merta Pak Umar menjawab dengan aksen dan logat
khas Medan, “Bah!, Bagaimana pula kau ini lay?! Jangankan tiga hari,
lima tahun saja aku sangat sabar tak memakainya!”. Hasilnya, pada hari
ke-limabelas, beliau sembuh total sebagai lelaki normal. Kali berikutnya
Pak Umar kembali datang di Pondok Gede, namun kali ini dengan misi yang berbeda, yaitu minta ukurannya diperbesar sekaligus diperpanjang.
Bentuk
tanggung jawab lain mak Erot dan keturunannya adalah tidak menerima
pembesaran penis lebih dari diameter empat centimeter dan atau
memanjangkan lebih dari 20 cm, kecuali dengan alasan sangat khusus dan
mendapat ijin dari pihak perempuan. Pasien Pak Baban selama ini
cenderung menunjuk
bambu favorit berdiameter dua-setengah dan tiga centimeter. Sementara
diameter para pasien umumnya hanya berkisar antara satu-setengah sampai
dua centimeter. Untuk panjang, angka centimeter yang disukai adalah 16, 17, dan 18. Angka-angka tersebut untuk mengganti yang mereka punyai, dibawah 11 cm.
Dokter
Agus ketika saya wawancarai di salah satu tempat prakteknya, RS. Bunda,
Cikini, mengatakan, “Ukuran penis tidak berpengaruh banyak dalam
hubungan seksual, kecuali memang pada kasus yang ekstrim”. Rekor
ukuran penis terpendek yang pernah ditangani H. Baban adalah tiga
centimeter. Bagaimana dengan permintaan yang bersifat kebalikannya,
yaitu diperkecil? H. Baban menegaskan bahwa semua klinik Mak Erot akan
segera menolaknya. Perlu dicatat, para calon pasien yang “gagal” itu
kebanyakan dari Indonesia Timur (Papua, Makasar, Flores, dan Timor-Timur
saat itu).
Saat ini telah dibuka enam klinik resmi Mak Erot di Jakarta. Lokasinya ada di Kebon Sirih, kampong Rambutan, Kalibata, Pondok Cabe, Blok A, dan Utan Kayu tempat H. Baban. “Hal ini untuk mengantisipasi bila ada yang coba-coba membuka klinik dengan menjual nama Mak Erot di Jakarta”, tuturnya. Bisa Anda bayangkan, dengan sedemikian populer dan marketablenya nama beliau, bisa saja Mak Erot membuka semacam franchise di seluruh Indonesia. Atau bahkan menggajukan diri sebagai caleg perempuan.
Suvenir dari Penjara, Warisan dari Istana
Kawan
saya, Tri Agus Santoso Siswowihardjo (TASS), seorang eks-tapol
mengatakan, “Sebagian besar alumnus Cipinang diyakini memakai setidaknya
satu dari T3”. T3 yang dimaksud adalah singkatan dari Tindik, Tato, dan
Tasbih. Tindik dan tato bisa diterakan pada seluruh bagian tubuh yang
memungkinkan, tak terkecuali penis. Namun tasbih adalah asesori khusus –
yang sesuai dengan peruntukannya – hanya ditanam di bawah kulit penis.
Yang dimaksud tasbih di sini sebenarnya adalah bahan dari gagang sikat
gigi atau sejenisnya, yang dibentuk bulat, dan diampelas halus hingga
menyerupai butiran untuk ritual keagamaan (tasbih atau rosario). Metodenya sederhana, namun cukup
berbahaya. Buka permukaan kulit penis, tanam tasbih dengan jumlah
sesuai keinginan, jahit, taburi serbuk kopi, tunggu proses penyembuhan
dalam beberapa hari, dan siap saji. Bubuk kopi digunakan untuk
memampatkan darah dan menjaga kulit penis agar tidak licin saat
dioperasi (jahit). Selain rasa sakit karena
dilakukan tanpa pembiusan, resiko lain adalah kemungkinan terjadi
infeksi. Tass, yang tubuhnya bersih dari tindik dan tato itu mengakhiri
penuturannya dengan berpesan, “Don’t try this at home!”.
Sesungguhnya tasbih bukan hal baru dalam khasanah budaya perkelaminan kita. Dalam buku Dari Celah Bui; Tidurlah Akal Sehat,
karya Danang Kukuh Wardoyo yang diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) pada tahun 1997, diceritakan asal mula ditemukannya
tasbih tersebut. Dikisahkan ada seorang pelaut yang bingung
menyembunyikan berlian hasil curiannya, sampai akhirnya timbul ide
menyelipkannya di bawah kulit penis. Setiba di darat, pelaut tersebut
berhubungan seksual dengan seorang perempuan. Tanpa disadari, benjolan
berlian di dalam kulit rupanya memberi efek kenikmatan dahsyat kepada
benjolan lain di seberang penisnya. Akibatnya, si perempuan terus
menempel pada si pelaut. Demikian juga yang terjadi pada berlian.
Diamond Are - stick down - Forever! Anda tentu boleh tidak percaya
cerita tersebut sebagai sejarah ditemukannya tasbih penggeli, sebab
selain tidak ada manuskrip pendukung, juga karena para perawinya tidak
jelas. Dus, kisah itu hanyalah sebuah muasal yang lebih bersuasana oral.
Dari sisi pandang yang berbeda, pentasbihan
kelamin justru sebuah tanda kekuasaan perempuan. Sebuah buku
antropologi terbitan Yayasan Obor Indonesia (YOI) berjudul South East
Asia in The Age of Commerce 1440-1680 yang diterjemahkan oleh Mochtar
Pabottingi dan diantar oleh Ong Hok Ham,
terdapat penjelasan bahwa penanaman tasbih adalah tanda kekuasaan kaum
perempuan terhadap laki-laki pada abad XV dan XVI
di wilayah Asia Tenggara. Pembedahan pada alat kelamin yang harus
ditanggung kaum pria demi kenikmatan erotis kaum wanitanya. Budaya
pentasbihan kelamin juga telah menjadi semacam simbol tanggung jawab
para raja di Nusantara. Para raja yang
selain memiliki satu istri resmi sebagai permaisuri, juga dituntut
untuk bisa memberi kepuasan seksual kepada para selir. Tasbih menjadi
gadget penting yang sangat membantu untuk itu selain mantra dan jamu.
Bahkan terkadang ada tasbih yang dibuat sedemikian menyerupai
kelintingan (lonceng kecil) sehingga menimbulkan bunyi agar bisa
menambah suasana semakin romantis. Tradisi Istana itu diyakini terus
mewaris turun-temurun hingga saat ini, namun tentu saja akan sulit
mendapatkan data yang valid. Siapa yang berani meneliti penis Sultan dan
memublikasikannya?
Tapi setidaknya kita masih memiliki sebuah situs budaya yang memapar tradisi
unik itu. Terletak di Karang Anyar, Surakarta, adalah Candi Sukuh.
Candi yang memaparkan berbagai simbol dan filsafat erotisme. Dan di
komplek itu bisa kita temui Lingga (patung phallus) yang lebih realistis
dibanding Lingga di candi lain. Bahkan kita juga bisa menemukan Lingga
dengan butiran tasbih penggeli di sana. Candi yang dikenal sebagai The
Erotic Temple itu sudah selayaknya diusulkan agar segera dimasukkan di
dalam situs warisan dunia perlindungan UNESCO seperti halnya Prambanan dan Borobudur.
Maraknya
budaya Punk, Tribal Art, Piercing Fashion, dan – barangkali juga –
Gender equality, seperti membangkitkan lagi tradisi penis accessories
yang lama terkulai. Majalah mingguan ibu kota, Tiras (edisi
pertengahan Juni 1997) menulis berita tentang praktek pemasangan
asesori penis oleh seorang dokter di Surabaya. Istilah yang dipakai oleh
Agung Sadono, nama dokter tersebut adalah “Khitan Spesial”. Menurutnya
Khitan Spesial bertujuan membantu agar pasangan mendapatkan kepuasan
dalam bercinta. Bahan yang digunakan adalah plastic, batu akik, permata,
hingga bulu kuda. Dengan merujuk penanaman silikon di dalam payudara,
saya kembali menanyakan kepada Dr. Agus Syarif apakah hal itu juga bisa
untuk memperbesar penis? “Bisa saja, tetapi dengan resiko yang jauh
lebih besar. Sebab selain penolakan zat asing oleh tubuh karena bisa
menimbulkan alergi, sifat penis berbeda dengan organ tubuh lain. Dia bisa mekar-mengkerut, dan ini tidak sesuai denga sifat silikon.
Kalau
Anda tertarik, tetapi tidak siap dengan bahaya dan biaya yang bakal
ditanggung, saya ada resep memperbesar penis yang sangat murah dan juga
mudah. Yaitu dengan merendam si cucak rawa di dalam air teh. Pelan tapi pasti, konon si cucak rawa akan
menjelma menjadi sang garudha, alias penis akan membesar. Namun
pastikan agar tidak terjadi mal praktek, misalnya jangan sekali-kali
menggunakan produk sliming tea. Kecuali Anda ingin cucak rawa menjadi burung pipit.
Gurah Vagina, Gairah bagi Siapa?
“Kampung
Bawah” tentu saja bukan hanya urusan laki-laki. Kaum perempuan dengan
alasannya sendiri, merasa perlu melakukan “bersih desa” wilayah kampung
bawahnya. Kesehatan diri adalah alasan yang masuk akal. Kunyit asam,
daun kemangi, daun sirih, dan jejamuan tradisional lainnya, sudah lama
dipercaya mampu mencegah keputihan
(leukore/pektay), gatal, panas, memperlancar haid, dan mengurangi rasa
sakitnya tanpa efek samping. Daun sirih mengandung enzim tannin yang
bisa mengurangi terjadinya iritasi dinding vagina.
Alasan
lain adalah pelayanan terbaik bagi pasangan. Untuk alasan ini,
perempuan rela melakukan tindakan-tindakan yang tidak dianjurkan dalam
ilmu kedokteran. Misalnya menggunakan tongkat Madura, yaitu sejenis batu
putih berbentuk silinder yang fungsinya untuk menyerap lendir vagina.
Cairan yang berfungsi mencegah luka iritasi dinding dalam vagina akibat
gesekan persetubuhan itu justru sebisa mungkin dikeringkan, karena
lelaki tidak menyukainya.
Anda
pernah mendengar gurah vagina? Gurah Vagina adalah cara yang dilakukan
oleh pakar pengobatan alternatif untuk menguras kelebihan cairan vagina
pasiennya.
Artinya, Anda tidak bisa melakukan secara swalayan layaknya memakai
tongkat Madura. Namun gurah vagina dipercaya lebih bersih termasuk
menguras lendir jamur, bakteri, juga jasad renik lain, hal yang tidak
bisa didapatkan kalau hanya mengandalkan tongkat Madura tadi.
Ada
banyak nama paranormal ahli gurah vagina yang terpampang di
majalah-majalah bertema supranatural. Kebanyakan perempuan. Saya
memutuskan mewawancarai Ibu Dewi Sedap Malam, salah seorang penggurah
yang dianggap terbaik di kalangan paranormal. Namun karena pasien sangat
padat, saya hanya sempat wawancara singkat melalui telepon, itupun
dengan Mbak Dewi, praktisi sekaligus asisten Ibu Dewi.
Metode gurah vagina berbeda-beda Mas, tapi tujuannya satu jua, yaitu kuras tuntas-tas! Ada yang dengan pengasapan, yaitu mengasapi wilayah di bawah sana
dengan sejenis rempah-rempah. Ada juga yang meneteskan cairan khusus di
dalam liang vagina. Lain lading, lain belalang, lain vagina, lain pula
metodenya. Mbak Yanti tidak menerapkan kedua cara tersebut. Tapi pasien
diberi pelayanan terpadu, yaitu minum ramuan semacam jamu tradisional
Jawa, dan pijat sekitar vagina bagi yang sudah pernah melahirkan. Untuk
pelayanan plus, pasien bisa mendapatkan serbuk cebok yang sudah diberi
mantra dan ritual khusus oleh Ibu Dewi.
Bagi
pasien, gurah vagina sangat penting karena bisa menciptakan rasa
nyaman, menghilangkan rasa gatal, bau tidak sedap, dan kelembaban yang
berlebihan. Gurah juga bisa mengembalikan kecantikan vagina, daya
cengkeram,keharuman,
serta menciptakan gairah tersendiri. Gurah akan membawa gairah bagi
siapa, tidak lagi jadi soal bagi pasien. “Yang pasti vagina hasil gurah
akan lebih legit, membuat pasangan lama seperti baru ketemu”, kata Mbak
Yanti berpromosi.
Kali
berikutnya saya berhasil ketemu langsung dengan Ibu Dewi Sedap Malam di
tempat prakteknya, kamar 502, Hotel Mega Proklamasi. Ibu dewi
menegaskan bahwa apa yang dikerjakannya bukanlah sebuah praktek klenik.
Ramuan tradisional yang ia ciptakan, ataupun hasil warisan, telah lulus
uji di laboratorium Universitas Airlangga, Surabaya. Pijat vagina yang
dilakukannya pun bukan sejenis hinotisme. Dia mengaku sangat memahami
seluk-beluk perototan vagina, sehingga tidak sembarangan memijat.
Pasien
juga tak dibebani dengan pantangan-pantangan. Menurutnya, semua makanan
sehat asal sesuai ukurannya. Jangan berlebihan. “Saya selalu
menyarankan agar mereka menjalankan kebugaran tubuh dengan berolahraga,
misalnya senam. Kemudian minum air putih, atau apa saja, yang pasti
semuanya tidak bertentangan dengan medis”. Tentang ritual yang
dijalankan, Ibu Dewi menuturkan, “pada hari-hari tertentu, saya memang
merasa perlu berkunjung ke makam beberapa Sunan. Sejujurnya, semua itu
lebih tertuju kepada saya, bukan pasien. Saya perlu memantapkan niat
dalam bekerja”.
Ibu Dewi Sedap Malam yang tidak membuka praktek malam itu memperoleh keahlian dari s
ang nenek, Legiyah. Neneknya
adalah seorang dukun bayi yang banyak membantu persalinan pada tahun 1950-an.
Sang
nenek mengajarkan keahliannya karena pada waktu itu daerah Pati dan
sekitarnya tidak ada dokter dan obat-obatan. Begitulah, seperti umumnya
anak-anak, Dewi kecil lebih sukabermain daripada membantu menggiling
bahan ramuan sang nenek. Namun, akhirnya ia menjalankan pesan sang nenek
karena keahliannya itu akan membantu kehidupannya kelak. Hal itu ia
sadari dan memang terbukti sekarang. Usahanya
sukses, banyak perempuan dari berbagai pelosok Indonesia datang untuk
berobat. Saat ini ia bahkan telah membuka praktek di Honkong dan Taiwan.
Bahkan ada yang menawarinya untuk membuka praktek di Jerman. Karena
kesibukanlah yang membuatnya belum menyanggupi. Namun hal itu tidak
mematahkan niatnya, yang sekaligus moto bisnisnya, yaitu untuk “Menolong
kaum perempuan sedunia agar bisa memberi servis terbaik bagi
pasangannya!”
Orang
bilang bahwa sejarah seks setua sejarah manusia itu sendiri. Tanpa
menafikan pendapat yang mengatakan bahwa seks tidak harus berhubungan
dengan kelamin, atau seks tidak harus dengan berhubungan kelamin,
kenikmatan dan ketidaknikmatan seks erat berkait dengan perangkat
tersebut. Manusia ibarat dikutuk menjadi mahluk kelamin. Ada yang
memujanya dengan merekayasa agar menjadi sedemikian sempurna. Pun
sebaliknya ada yang memberangusnya dengan dogma-dogma agama. Saya tidak
membahas hal terakhir tersebut, tapi hanya meraba-raba seputar
perangkatnya. Itu saja sudah cukup menimbulkan keringat.