Friday, 13 July 2012

Meraba Wilayah Kampung Bawah

Manuke, manuke cucak rawa,
Cucak rawa, dawa buntute
Buntute sing akeh wulune,
Nek digoyang, Serr,
Aduh enake!

Lagu Cucak Rawa begitu popular belakangan ini. Nada lagu yang sederhana dengan ketukan standar ini tinggal digubah liriknya, maka serta-merta bisa menjadi lagu siapa saja. Selain pramuka, milisi, dan tentara – yang punya versi masing-masing – kelompok anti politisi busuk pun meminta Franky Sahilatua membuat parodinya. Namun tulisan ini tak hendak membicarakan lagu ini. Tak lain karena lirik seksis lagu tersebut menarik karena menggunakan symbol burung cucak rawa berekor panjang berbulu lebat, yang dalam lirik lengkap lagu ini bisa membuat si perawan menangis ketakutan. Begitukah?
Kejantanan seorang pria sering dihubungkan dengan hal-hal seputar “Kampung Bawah-nya”. Metafor lain untuk kelamin. Tentu saja teori ilmiah membantah mitos tersebut. “Size Doesn’t Matter” , kata orang ilmiah. Dr. Agus Syarif SpOG, seorang ginekolog, mengatakan, “Hubungan seks cenderung diartikan sekadar hubungan fisik, padahal ada yang lebih penting dari itu, yaitu sebuah hubungan yang bersifat psikis”. Namun realita berkata lain. Para lelaki yang merasa kurang pede akan berupaya meng-up grade alat kelaminnya agar lebih panjang, besar, keras, cepat tegang, dan tahan lama. Sejujurnya, urusan gundul-gondrongnya jembut si cucak rawa tidak begitu dipedulikan. Untuk semua itu, mereka rela menempuh berbagai cara dan mahal karena sungguh berharap pasangannya senang, bukan malah menangis seperti si perawan lagu Cucak Rawa itu.
Erot-isme dan “Kebangkitan Arus Bawah”
Tersebutla di Desa Caringin, Cisolok, Sukabumi, seorang perempuan renta, tapi justru mampu menolong pria menjadi perkasa. (Mak) Erot namanya. Nenek tersebut mempunyai keahlian khusus untuk mengoptimalkan ukuran dan kinerja penis. Ilmu istimewa itu ia peroleh dari Sang Ibunda, (Mak) Layi. Konon dalam sebuah mimpi, Mak Layi menerima Siloka, amanat tersamar dari Karuhun atau nenek moyang untuk “Mengobati orang yang sudah mati, hidup kembali”. Setelah cukup lama bertanya-tanya, tahulah Mak Layi apa yang dimaksud dengan “Orang mati” dalam mimpinya. Tak lain adalah alat kelamin pria yang sudah tidak mampu lagi “bekerja”. Mak Layi memang tidak melakukan pengobatan, tetapi dia mengajari Mak Erot bagaimana caranya. Dan Mak Erot mulai mengamalkan ilmunya sejak tahun 1945. Hingga kini metode yang dipakainya tidak pernah berubah, yaitu kombinasi urut, mantra warisan, lemang, terong hutan, ramuan 42 jenis akar-akaran, dan beberapa pantangan.
Berikut adalah contoh prosesi modifikasi penis tersebut. Awalnya pasien diperiksa, diurut, kemudian diharuskan menghabiskan lemang, yaitu makanan sejenis lontong yang direbus dalam potongan bambu. Ini bukan bambu sembarang bambu. Ukuran potongan bambu mewakili ukuran penis yang dikehendaki pasien. Setelah itu pasien didiminta menjalankan keharusan dan pantangan tertentu. Ia harus makan buah terong hutan kecil yang dipercaya hanya tumbuh di hutan Cisolok dan pekarangan/halaman rumah Mak Erot. Pasien juga harus menjalani pantang makan tiga hal seumur hidup, yaitu pisang emas, daun sereh, dan terong panjang. Yang penting lagi, ia harus bersedia untuk tidak melakukan hubungan seksual dalam jangka waktu tertentu selama pengobatan.
Tertarik? Anda tak perlu jauh-jauh pergi ke Cisolok. Praktek pengobatan Mak Erot dibuka di banyak tempat di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan acapkali menggelar praktek di hotel-hotel tertentu. Iklan pengobatannya bertebaran di banyak media cetak metropolitan. Sementara, rumor mengabarkan bahwa Mak Erot yang asli sudah tiada. Namun H. Baban Mustofa, salah seorang cucu dari putra ketiga Mak Erot mengatakan, “Sampai saat ini beliau masih segar bugar. Bisa dicek Mas”. Dalam sebuah iklan di Majalah Misteri 2001, disebutkan sang nenek berusia 120 tahun. Kalau benar begitu, usia Mak Erot saat tulisan ini dimuat di Majalah Jakarta (2004), adalah 123 tahun. Kiranya, Mak Erot perlu juga membeberkan rahasia agar bisa berumur panjang.
[Mendengar kabar beliau wafat (5 Juli 2008), tulisan ini saya munculkan lagi sebagai penghormatan atas jasa beliau dalam upaya menguri-uri tradisi Karuhun. Turut berduka cita sedalamnya kepada keluarga yang di tinggalkan; Marto Art]
Ilmunya, atau rahasia Siloka itu – sebut saja Erot-isme – tetap diteruskan keturunannya, atau yang mengaku keturunannya. Yang terakhir disebut tadi memang marak dan menjadi keprihatinan H. Baban. Tidak sedikit yang mengklaim demikian dan memakai brand name terpercaya “Mak Erot” karena membawa laba yang besar. Mahar (Istilah dunia paranormal untuk “Pembayaran/Harga”) sebuah lemang, biaya administrasi, dan sebagainya bisa mencapai Rp. 500.000,00. “Itu sih sah-sah saja, kami tidak mau memonopoli bisnis ini, asal ada tanggung jawab kepada pasien Mas”, kata H. Baban. Profesionalisme ini dijaga oleh trah Mak Erot. Pernah suatu kali terjadi kesalahan pengobatan pada seorang pasien yang minta agar penisnya diperbesar. Pasien yang sehari-hari bekerja di sebuah stasiun televisi swasta ternama itu mengeluh, karena hasilnya justru bertambah panjang. Maka dengan penuh dedikasi, digaraplah penis sesuai order semula (diperbesar). “Jangan membuat pasien kecewa, usahakan yang datang puas, sehingga kita dipercaya”, kata H. Baban sedikit berpromosi.
Rupanya, itu pernah terjadi. Pada tahun 1996-1997, saat klinik masih berada di Ujung Aspal, Pondok Gede. Adalah seorang Umar Rusmadi (56), pasien asal Medan (H. Baban mengaku lupa nama marganya) datang berobat akibat impotensi yang disandangnya selama lima tahun. Semabri mengurut, seperti biasa H. baban dengan penuh taklim menyampaikan apa yang harus dipantang sang pasien. Salah satunya adalah menjaga kesabaran untuk tidak melakukan hubungan seksual selama tiga hari pertama pengobatan. Serta-merta Pak Umar menjawab dengan aksen dan logat khas Medan, “Bah!, Bagaimana pula kau ini lay?! Jangankan tiga hari, lima tahun saja aku sangat sabar tak memakainya!”. Hasilnya, pada hari ke-limabelas, beliau sembuh total sebagai lelaki normal. Kali berikutnya Pak Umar kembali datang di Pondok Gede, namun kali ini dengan misi yang berbeda, yaitu minta ukurannya diperbesar sekaligus diperpanjang.
Bentuk tanggung jawab lain mak Erot dan keturunannya adalah tidak menerima pembesaran penis lebih dari diameter empat centimeter dan atau memanjangkan lebih dari 20 cm, kecuali dengan alasan sangat khusus dan mendapat ijin dari pihak perempuan. Pasien Pak Baban selama ini cenderung menunjuk bambu favorit berdiameter dua-setengah dan tiga centimeter. Sementara diameter para pasien umumnya hanya berkisar antara satu-setengah sampai dua centimeter. Untuk panjang, angka centimeter yang disukai adalah 16, 17, dan 18. Angka-angka tersebut untuk mengganti yang mereka punyai, dibawah 11 cm.
Dokter Agus ketika saya wawancarai di salah satu tempat prakteknya, RS. Bunda, Cikini, mengatakan, “Ukuran penis tidak berpengaruh banyak dalam hubungan seksual, kecuali memang pada kasus yang ekstrim”. Rekor ukuran penis terpendek yang pernah ditangani H. Baban adalah tiga centimeter. Bagaimana dengan permintaan yang bersifat kebalikannya, yaitu diperkecil? H. Baban menegaskan bahwa semua klinik Mak Erot akan segera menolaknya. Perlu dicatat, para calon pasien yang “gagal” itu kebanyakan dari Indonesia Timur (Papua, Makasar, Flores, dan Timor-Timur saat itu).
Saat ini telah dibuka enam klinik resmi Mak Erot di Jakarta. Lokasinya ada di Kebon Sirih, kampong Rambutan, Kalibata, Pondok Cabe, Blok A, dan Utan Kayu tempat H. Baban. “Hal ini untuk mengantisipasi bila ada yang coba-coba membuka klinik dengan menjual nama Mak Erot di Jakarta”, tuturnya. Bisa Anda bayangkan, dengan sedemikian populer dan marketablenya nama beliau, bisa saja Mak Erot membuka semacam franchise di seluruh Indonesia. Atau bahkan menggajukan diri sebagai caleg perempuan.
Suvenir dari Penjara, Warisan dari Istana
Kawan saya, Tri Agus Santoso Siswowihardjo (TASS), seorang eks-tapol mengatakan, “Sebagian besar alumnus Cipinang diyakini memakai setidaknya satu dari T3”. T3 yang dimaksud adalah singkatan dari Tindik, Tato, dan Tasbih. Tindik dan tato bisa diterakan pada seluruh bagian tubuh yang memungkinkan, tak terkecuali penis. Namun tasbih adalah asesori khusus – yang sesuai dengan peruntukannya – hanya ditanam di bawah kulit penis. Yang dimaksud tasbih di sini sebenarnya adalah bahan dari gagang sikat gigi atau sejenisnya, yang dibentuk bulat, dan diampelas halus hingga menyerupai butiran untuk ritual keagamaan (tasbih atau rosario). Metodenya sederhana, namun cukup berbahaya. Buka permukaan kulit penis, tanam tasbih dengan jumlah sesuai keinginan, jahit, taburi serbuk kopi, tunggu proses penyembuhan dalam beberapa hari, dan siap saji. Bubuk kopi digunakan untuk memampatkan darah dan menjaga kulit penis agar tidak licin saat dioperasi (jahit). Selain rasa sakit karena dilakukan tanpa pembiusan, resiko lain adalah kemungkinan terjadi infeksi. Tass, yang tubuhnya bersih dari tindik dan tato itu mengakhiri penuturannya dengan berpesan, “Don’t try this at home!”.
Sesungguhnya tasbih bukan hal baru dalam khasanah budaya perkelaminan kita. Dalam buku Dari Celah Bui; Tidurlah Akal Sehat, karya Danang Kukuh Wardoyo yang diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tahun 1997, diceritakan asal mula ditemukannya tasbih tersebut. Dikisahkan ada seorang pelaut yang bingung menyembunyikan berlian hasil curiannya, sampai akhirnya timbul ide menyelipkannya di bawah kulit penis. Setiba di darat, pelaut tersebut berhubungan seksual dengan seorang perempuan. Tanpa disadari, benjolan berlian di dalam kulit rupanya memberi efek kenikmatan dahsyat kepada benjolan lain di seberang penisnya. Akibatnya, si perempuan terus menempel pada si pelaut. Demikian juga yang terjadi pada berlian. Diamond Are - stick down - Forever! Anda tentu boleh tidak percaya cerita tersebut sebagai sejarah ditemukannya tasbih penggeli, sebab selain tidak ada manuskrip pendukung, juga karena para perawinya tidak jelas. Dus, kisah itu hanyalah sebuah muasal yang lebih bersuasana oral.
Dari sisi pandang yang berbeda, pentasbihan kelamin justru sebuah tanda kekuasaan perempuan. Sebuah buku antropologi terbitan Yayasan Obor Indonesia (YOI) berjudul South East Asia in The Age of Commerce 1440-1680 yang diterjemahkan oleh Mochtar Pabottingi dan diantar oleh Ong Hok Ham, terdapat penjelasan bahwa penanaman tasbih adalah tanda kekuasaan kaum perempuan terhadap laki-laki pada abad XV dan XVI di wilayah Asia Tenggara. Pembedahan pada alat kelamin yang harus ditanggung kaum pria demi kenikmatan erotis kaum wanitanya. Budaya pentasbihan kelamin juga telah menjadi semacam simbol tanggung jawab para raja di Nusantara. Para raja yang selain memiliki satu istri resmi sebagai permaisuri, juga dituntut untuk bisa memberi kepuasan seksual kepada para selir. Tasbih menjadi gadget penting yang sangat membantu untuk itu selain mantra dan jamu. Bahkan terkadang ada tasbih yang dibuat sedemikian menyerupai kelintingan (lonceng kecil) sehingga menimbulkan bunyi agar bisa menambah suasana semakin romantis. Tradisi Istana itu diyakini terus mewaris turun-temurun hingga saat ini, namun tentu saja akan sulit mendapatkan data yang valid. Siapa yang berani meneliti penis Sultan dan memublikasikannya?
Tapi setidaknya kita masih memiliki sebuah situs budaya yang memapar tradisi unik itu. Terletak di Karang Anyar, Surakarta, adalah Candi Sukuh. Candi yang memaparkan berbagai simbol dan filsafat erotisme. Dan di komplek itu bisa kita temui Lingga (patung phallus) yang lebih realistis dibanding Lingga di candi lain. Bahkan kita juga bisa menemukan Lingga dengan butiran tasbih penggeli di sana. Candi yang dikenal sebagai The Erotic Temple itu sudah selayaknya diusulkan agar segera dimasukkan di dalam situs warisan dunia perlindungan UNESCO seperti halnya Prambanan dan Borobudur.
Maraknya budaya Punk, Tribal Art, Piercing Fashion, dan – barangkali juga – Gender equality, seperti membangkitkan lagi tradisi penis accessories yang lama terkulai. Majalah mingguan ibu kota, Tiras (edisi pertengahan Juni 1997) menulis berita tentang praktek pemasangan asesori penis oleh seorang dokter di Surabaya. Istilah yang dipakai oleh Agung Sadono, nama dokter tersebut adalah “Khitan Spesial”. Menurutnya Khitan Spesial bertujuan membantu agar pasangan mendapatkan kepuasan dalam bercinta. Bahan yang digunakan adalah plastic, batu akik, permata, hingga bulu kuda. Dengan merujuk penanaman silikon di dalam payudara, saya kembali menanyakan kepada Dr. Agus Syarif apakah hal itu juga bisa untuk memperbesar penis? “Bisa saja, tetapi dengan resiko yang jauh lebih besar. Sebab selain penolakan zat asing oleh tubuh karena bisa menimbulkan alergi, sifat penis berbeda dengan organ tubuh lain. Dia bisa mekar-mengkerut, dan ini tidak sesuai denga sifat silikon.
Kalau Anda tertarik, tetapi tidak siap dengan bahaya dan biaya yang bakal ditanggung, saya ada resep memperbesar penis yang sangat murah dan juga mudah. Yaitu dengan merendam si cucak rawa di dalam air teh. Pelan tapi pasti, konon si cucak rawa akan menjelma menjadi sang garudha, alias penis akan membesar. Namun pastikan agar tidak terjadi mal praktek, misalnya jangan sekali-kali menggunakan produk sliming tea. Kecuali Anda ingin cucak rawa menjadi burung pipit. 
Gurah Vagina, Gairah bagi Siapa?
“Kampung Bawah” tentu saja bukan hanya urusan laki-laki. Kaum perempuan dengan alasannya sendiri, merasa perlu melakukan “bersih desa” wilayah kampung bawahnya. Kesehatan diri adalah alasan yang masuk akal. Kunyit asam, daun kemangi, daun sirih, dan jejamuan tradisional lainnya, sudah lama dipercaya mampu mencegah keputihan (leukore/pektay), gatal, panas, memperlancar haid, dan mengurangi rasa sakitnya tanpa efek samping. Daun sirih mengandung enzim tannin yang bisa mengurangi terjadinya iritasi dinding vagina.
Alasan lain adalah pelayanan terbaik bagi pasangan. Untuk alasan ini, perempuan rela melakukan tindakan-tindakan yang tidak dianjurkan dalam ilmu kedokteran. Misalnya menggunakan tongkat Madura, yaitu sejenis batu putih berbentuk silinder yang fungsinya untuk menyerap lendir vagina. Cairan yang berfungsi mencegah luka iritasi dinding dalam vagina akibat gesekan persetubuhan itu justru sebisa mungkin dikeringkan, karena lelaki tidak menyukainya.
Anda pernah mendengar gurah vagina? Gurah Vagina adalah cara yang dilakukan oleh pakar pengobatan alternatif untuk menguras kelebihan cairan vagina pasiennya. Artinya, Anda tidak bisa melakukan secara swalayan layaknya memakai tongkat Madura. Namun gurah vagina dipercaya lebih bersih termasuk menguras lendir jamur, bakteri, juga jasad renik lain, hal yang tidak bisa didapatkan kalau hanya mengandalkan tongkat Madura tadi.
Ada banyak nama paranormal ahli gurah vagina yang terpampang di majalah-majalah bertema supranatural. Kebanyakan perempuan. Saya memutuskan mewawancarai Ibu Dewi Sedap Malam, salah seorang penggurah yang dianggap terbaik di kalangan paranormal. Namun karena pasien sangat padat, saya hanya sempat wawancara singkat melalui telepon, itupun dengan Mbak Dewi, praktisi sekaligus asisten Ibu Dewi.
Metode gurah vagina berbeda-beda Mas, tapi tujuannya satu jua, yaitu kuras tuntas-tas! Ada yang dengan pengasapan, yaitu mengasapi wilayah di bawah sana dengan sejenis rempah-rempah. Ada juga yang meneteskan cairan khusus di dalam liang vagina. Lain lading, lain belalang, lain vagina, lain pula metodenya. Mbak Yanti tidak menerapkan kedua cara tersebut. Tapi pasien diberi pelayanan terpadu, yaitu minum ramuan semacam jamu tradisional Jawa, dan pijat sekitar vagina bagi yang sudah pernah melahirkan. Untuk pelayanan plus, pasien bisa mendapatkan serbuk cebok yang sudah diberi mantra dan ritual khusus oleh Ibu Dewi.
Bagi pasien, gurah vagina sangat penting karena bisa menciptakan rasa nyaman, menghilangkan rasa gatal, bau tidak sedap, dan kelembaban yang berlebihan. Gurah juga bisa mengembalikan kecantikan vagina, daya cengkeram,keharuman, serta menciptakan gairah tersendiri. Gurah akan membawa gairah bagi siapa, tidak lagi jadi soal bagi pasien. “Yang pasti vagina hasil gurah akan lebih legit, membuat pasangan lama seperti baru ketemu”, kata Mbak Yanti berpromosi.
Kali berikutnya saya berhasil ketemu langsung dengan Ibu Dewi Sedap Malam di tempat prakteknya, kamar 502, Hotel Mega Proklamasi. Ibu dewi menegaskan bahwa apa yang dikerjakannya bukanlah sebuah praktek klenik. Ramuan tradisional yang ia ciptakan, ataupun hasil warisan, telah lulus uji di laboratorium Universitas Airlangga, Surabaya. Pijat vagina yang dilakukannya pun bukan sejenis hinotisme. Dia mengaku sangat memahami seluk-beluk perototan vagina, sehingga tidak sembarangan memijat.
Pasien juga tak dibebani dengan pantangan-pantangan. Menurutnya, semua makanan sehat asal sesuai ukurannya. Jangan berlebihan. “Saya selalu menyarankan agar mereka menjalankan kebugaran tubuh dengan berolahraga, misalnya senam. Kemudian minum air putih, atau apa saja, yang pasti semuanya tidak bertentangan dengan medis”. Tentang ritual yang dijalankan, Ibu Dewi menuturkan, “pada hari-hari tertentu, saya memang merasa perlu berkunjung ke makam beberapa Sunan. Sejujurnya, semua itu lebih tertuju kepada saya, bukan pasien. Saya perlu memantapkan niat dalam bekerja”.
Ibu Dewi Sedap Malam yang tidak membuka praktek malam itu memperoleh keahlian dari sang nenek, Legiyah. Neneknya adalah seorang dukun bayi yang banyak membantu persalinan pada tahun 1950-an. Sang nenek mengajarkan keahliannya karena pada waktu itu daerah Pati dan sekitarnya tidak ada dokter dan obat-obatan. Begitulah, seperti umumnya anak-anak, Dewi kecil lebih sukabermain daripada membantu menggiling bahan ramuan sang nenek. Namun, akhirnya ia menjalankan pesan sang nenek karena keahliannya itu akan membantu kehidupannya kelak. Hal itu ia sadari dan memang terbukti  sekarang. Usahanya sukses, banyak perempuan dari berbagai pelosok Indonesia datang untuk berobat. Saat ini ia bahkan telah membuka praktek di Honkong dan Taiwan. Bahkan ada yang menawarinya untuk membuka praktek di Jerman. Karena kesibukanlah yang membuatnya belum menyanggupi. Namun hal itu tidak mematahkan niatnya, yang sekaligus moto bisnisnya, yaitu untuk “Menolong kaum perempuan sedunia agar bisa memberi servis terbaik bagi pasangannya!”
Orang bilang bahwa sejarah seks setua sejarah manusia itu sendiri. Tanpa menafikan pendapat yang mengatakan bahwa seks tidak harus berhubungan dengan kelamin, atau seks tidak harus dengan berhubungan kelamin, kenikmatan dan ketidaknikmatan seks erat berkait dengan perangkat tersebut. Manusia ibarat dikutuk menjadi mahluk kelamin. Ada yang memujanya dengan merekayasa agar menjadi sedemikian sempurna. Pun sebaliknya ada yang memberangusnya dengan dogma-dogma agama. Saya tidak membahas hal terakhir tersebut, tapi hanya meraba-raba seputar perangkatnya. Itu saja sudah cukup menimbulkan keringat.

No comments:

Post a Comment