Friday, 29 June 2012

Bercinta dan Making Love

 


 



Diri ini sempat bilang “Basi” ketika ada sahabat sehati mempertanyakan apa perbedaan dari makna bercinta, bersetubuh, dan ngeseks. Namun ketika sahabat tadi bertutur panjang lebar artinya, termasuk memberikan contoh-contohnya, maka ingatan pun melayang pada pemahaman-pemahaman sebelumnya. Mencoba mengutak-atiknya dari beragam pengertian dan pendekatan ternyata cukup menyenangkan, meski barangkali akan ditanggapi berbeda oleh pihak lain.

Ngeseks atau having sex artinya ya sekedar berhubungan badan, yang bisa dilakukan tanpa perasaan, alias karena libido yang terbangkitkan, itu saja. Makna bercinta dalam istilah lain making love merupakan salah satu ekspresi dari perasaan mencinta pasangan yang dituangkan dalam seni berhubungan badan, sehingga nilai rasa itu sendiri dimunculkan. Sebetulnya sih sama-sama berhubungan badan juga, dan barangkali oleh orang barat yang menggunakan bahasa Inggris penggunaan making love dan having sex, tiada bedanya. Jadi pembedaan selintas tadi barangkali juga upaya pengkultusan kegiatan seks itu sendiri oleh orang-orang Indonesia, yang barangkali memang berupaya ”menghaluskan” nilai-nilai seks dengan cara-cara ”ketimuran”.

Sementara itu, jelas saya pribadi menolak pembedaan kata bersetubuh dengan terjemahan dari ”bertemunya bagian tubuh antara dua orang, pun termasuk saling bersentuhan jemari = bersetubuh,” ujar sahabat tadi. Aduh jelas-jelas saya menolak menggunakan kiasan ini pada kamus tatabahasa yang saya kenal. Bisa-bisa saya dikategorikan hypersex saat berjabat tangan dengan sekian banyak relasi kerja dalam keseharian ☺.

Di luar dari berbagai penghalusan ataupun ”pengtimuran” kata tadi, diri ini memaknai kegiatan seks itu sendiri memang sebagai ekspresi cinta. Tanpa perasaan cinta, menghargai, dan rasa sayang, sebuah kegiatan bercinta tanpa rasa ini dipastikan berlangsung hambar. Namun tentu saja berbeda bagi penikmat one nite stand yang barangkali justru merasakan binar dan sensasi bercinta karena tanpa dibebani embel-embel segala perasaan itu tadi. Sementara itu ada juga sahabat sehati yang tidak memasukkan hubungan seks sebagai bagian dari ekspresi cinta, ini juga pilihan.

Membahas isu seks memang selalu menarik dan tak akan pernah habis, termasuk juga memahami bahwa bagi kaum perempuan secara umum mengalami proses meningkatnya kebutuhan seks saat berusia 20an, masa ketika pengetahuan akan seksnya makin jelas dan sudah ada ”cap” kedewasaan secara jelas dari sisi hukum. Kemudian berlanjut dengan seringnya disebut-sebut bahwa usia 30 something, adalah usia puncak seksualitas perempuan. Usia ketika perempuan modern biasanya sudah mandiri dan makin mapan dan makin menghargai akan pentingnya memanjakan tubuh dan dirinya. Namun tentu saja setiap perempuan berbeda dan memiliki keunikan tersendiri, karena beberapa di antaranya justru makin matang di usia menjelang dan masuk 40-an. Itu pula sebabnya ada istilah life begins at 40. Penghitungan di atas 40 tahun makin hot ada benarnya secara matematis biologis, di mana pada usia tersebut kedewasaan berpikir dan kematangan tubuh perempuan berjalan seiring. Sudah tidak ada lagi keluhan dan pertanyaan atas fungsi tubuh keperempuanannya. Kualitas hidupnya sudah sangat bagus, terpenuhi. Sementara masa menjelang menaupose juga belum lagi datang. Banyak contoh artis Hollywood yang bisa dilihat secara jelas terbuka antara lain Demi Moore, Nicole Kidman, Sharon Stone, Madonna sang sex symbol dan berderet bintang lainnya.

Bercinta itu sendiri merupakan insting, naluri yang tidak terpisahkan dari sejarah manusia. Meski awalnya lebih digembar-gemborkan sebagai sarana prokreasi, melahirkan keturunan, namun dalam praktiknya kegiatan seks itu sendiri juga bagian dari kegiatan rekreasi, hiburan. Konteksnya jelas tidak semata-mata hiburan yang menghibur, entertaining, namun juga memiliki fungsi relaksasi. Dalam beberapa penelitian ilmiah sering juga dikaitkan antara tidak tersalurkannya kebutuhan seksual dengan emosi seseorang. Tentu saja makna menyalurkan kebutuhan seksual itu sendiri tidak semata-mata berhubungan badan dengan orang lain, kegiatan melakukan seks secara mandiri, masturbasi, sampai pun beryoga juga memiliki fungsi yang sama.

Meski idealnya bagi yang berpasangan memang melakukan kegiatan ini secara bersama-sama, dan saling menikmati, namun dalam kenyataannya tidak selalu seideal itu. Banyak pasangan lesbian yang sudah relatif mapan berhubungan, melewati beberapa tahun kebersamaan, memiliki masalah seks yang bisa mengganggu kemesraan. Misalnya saja mengalami titik jenuh, kurang variasi, dan beberapa persoalan sejenis lainnya yang kemudian memunculkan kemalasan bercinta satu sama lain. Lebih gawatnya lagi bila kemudian kegiatan ini menjadi semacam ”kewajiban” layaknya yang terjadi pada pasangan suami-istri heteroseksual. Kalau sudah begini, tidak ada salahnya mendiskusikan hal ini satu sama lain, mencari pemecahan bersama, dan bila memungkinkan mencari konselor rumah tangga yang paham akan kehidupan lesbian. Seks memang bukan yang utama dalam sebuah hubungan, namun ... semakin sering dilakukan dalam porsi yang wajar, rasanya memang semakin baik dan menyenangkan ☺

No comments:

Post a Comment