kisah ini adalah kecabulan nyata yang dilakukan seorang guru SMP pada
belasan murid perempuannya. Seperti dituturkan Mardi pada penulis, telah
diedit tanpa mengaburkan keaslian maknanya.
Mardi adalah lelaki
berusia 35 tahun yang masih juga ngejomblo dan pekerjaan sehari-harinya
sebagai guru di SMP swasta di kota S*****(Edited).
Kenapa tetap ngejomblo?
Ceritanya
diusia belasan dulu, Mardi pernah dikecewain Mustinah, gadis kampung
idamannya yang kemudian kawin dengan bandot tua bernama Muksin, juragan
tanah di kampung itu. Setelah merantau dan menjadi guru di kota S, Mardi
juga pernah beberapa kali menjalin asmara, misalnya dengan Susi,
karyawati disebuah hotel di kota S. Tapi, Mardi pun jadi kecewa setelah
tahu kalau Susi tak lebih hanyalah wanita panggilan yang tubuhnya sudah
seringkali dijamah lelaki hidung belang. Sedangkan dengan Erna, anak
kepala desa di kota S, orangtua Mardi dikampung kurang sregg, jadi Mardi
terpaksa hengkang meninggalkan Erna. Takut kualat sama ortunya.
Di
kota S, Mardi tinggal dikompleks pengajar di SMP swasta itu. Nah
kelakuan bejat Mardi mulai terjadi dua tahun terakhir, dan semakin
menjadi-jadi karena selama itu tak pernah ketahuan.
Awalnya,
suatu pagi Mardi bingung sekali harus bagaimana. Semalam sebelumnya, ia
bersama beberapa teman bujang disekitar kompleks pengajar habis
melototin adegan layak sensor dari VCD miliknya. Gambaran adegan porno
yang ditontonnya membuat libido Mardi terus melonjak dan butuh
tersalurkan, sementara istri belum punya. Mau belanja ke lokalisasi,
Mardi takut kepergok kenalan. Profesi sebagai guru yang patut digugu dan
ditiru tentu saja melarangnya secara sosial untuk melakukan itu.
"Ayo
Linda, kamu maju kedepan dan kerjakan tugas ini dipapan," perintah
Mardi pada muridnya. Pagi itu Mardi mengajar matematika untuk kelas
satu. Jumlah murid kelas 1A hanya 30 orang, yang cowok 10 dan cewek 20.
Begitu dapat perintah Mardi, Linda maju kedepan untuk mengerjakan
perintah pak guru Mardi.
"Sudah pak.., sudah selesai," kata Linda
setelah mengerjakan tugas dipapan tulis. Mardi bangkit dari duduknya,
dan mengamati tugas yang dikerjakan Linda.
"Wah., kamu ini pasti
tidak pernah belajar ya? Kok ini salah semua.. Sini kamu Linda, bapak
beri hukuman," Mardi sedikit melotot meminta muridnya mendekat.
Linda
adalah gadis ABG berusia 13 tahun. Bagi Mardi, murid yang satu ini
cukup manis dan cantik, walaupun masih ABG alias bau kencur. Body Linda
yang mulai remaja membuat daya tarik tersendiri bagi Mardi, apalagi
tubuh bongsor Linda membuat susu yang baru tumbuh terlihat sexy tak ber
BH.
"Nih.. Lain kali belajar yang rajin ya..," Mardi mencubit bokong Linda dengan gemas sampai gadis cilik itu meringis kesakitan.
"Ampun pak guru.. Iya besok saya belajar," Linda takut sekali dimarahi pak guru Mardi.
"Anak-anak
yang lain, kalau kalian tidak belajar maka kalian akan bernasib sama
kayak Linda. Nah Linda, jam istirahat nanti kamu menghadap pak guru ya,
kalau nggak ada diruang guru kamu cari bapak dirumah," perintah Mardi
lagi, Linda merunduk ketakutan. Setelah jam pelajaran Matematika
selesai, Mardi kembali kerumahnya yang hanya beberapa meter dari
sekolah. Kelas 1A kemudian diajar bu Westi untuk pelajaran IPA.
Kesempatan
jam istrirahat satu jam lagi dinanti Mardi dirumahnya, akal bulusnya
mulai disusun untuk dapat melampiaskan nafsu yang terpendam pada Linda.
"Teng..
Teng.. Teng," bel istirahat berbunyi, anak-anak SMP terlihat
berhamburan keluar untuk beli aneka jajanan dikios-kios sekitar sekolah.
Diruang
tamu rumahnya, Mardi menunggu Linda datang. Dan betul saja, beberapa
menit setelah lonceng berbunyi Linda terlihat menuju rumah pak guru
Mardi.
"Ayo masuk Linda, duduk disini," kata Mardi begitu Linda sampai.
"Iya pak guru," Linda langsung duduk dikursi di depan Mardi.
"Nah
sekarang kamu jelaskan kenapa kamu ini terlambat sekali berpikirnya,
apa dirumahmu banyak pekerjaan yang harus kau lakukan, atau memang kamu
malas belajar hah?" Mardi berlagak marah membuat Linda ketakutan.
"Eh..
Anu pak.., saya kalau dirumah memang repot jagain adik yang masih
kecil, jadi sering lupa belajar, maaf pak guru," Linda tertunduk.
Mardi
tersenyum simpul melihat Linda yang ketakutan, ia pun segera berpikir
untuk menggarap murid bongsor itu. Mardi kemudian menjelaskan pada Linda
kalau dirinya bisa pintar secara instan tak perlu belajar, tentu saja
itu akal-akalan Mardi.
"Kalau kamu mau, kamu harus datang kesini nanti sore biar bapak kasih tahu rahasia pintarnya," kata Mardi meyakinkan.
"Mau
pak.. Saya mau sekali asal bisa pintar dan jadi juara," jawab Linda
lugu. Waktu pun disepakati, Linda akan datang jam 5 sore untuk menerima
rahasia ilmu dari pak guru Mardi.
Mardi sudah menyiapkan segala
sesuatunya untuk menggarap tubuh Linda sore itu. Ia tahu benar kalau
sore itu kompleks pengajar yang hanya tiga rumah akan sepi karena pak
Mad dan bu Westi ada acara arisan keluarga. Mardi tak ikut karena belum
berkeluarga.
"Tok.. Tok.. Tok," pintu rumah terdengar ketukan.
"Eh kamu Linda.. Kok cantik sekali kamu..," Mardi menyambut Linda dengan genit.
"Jadi kan bapak kasih ilmunya?" tanya Linda dimuka pintu.
"Jadi
dong, ayo masuk kamu," Mardi menuntun Linda masuk kerumahnya, setelah
itu pintu utama ditutup rapat. Linda pakai rok sekolah sebatas lutut
dipadu kaos ketat warna pink, membuat susu yang baru tumbuh nampak
tersembul kedepan.
"Nah sekarang bapak mau kasih rahasia pintar,
tetapi kamu janji dulu untuk tidak cerita kepada siapapun. Soalnya,
kalau murid yang lain tahu mereka akan cemburu dan minta ilmu itu juga,
nanti kamu banyak saingan dan susah jadi juara, mau kan?" kata Mardi.
"Iya.. I.. Iya pak saya janji," jawab Linda lugu.
"Oke
kalau begitu, sekarang kamu duduk disini ya, biar bapak kasih ilmunya,"
Mardi menyuruh Linda duduk di bangku kayu, Linda menurut saja.
Setelah Linda duduk, Mardi mendekat dan berbisik-bisik ketelinga kanan Linda.
"Kalau
mau pintar, telingamu harus dijilati seperti ini," kata Mardi, lidahnya
langsung menyapu daun telinga Linda berkali-kali sambil tangannya
memegangi kepala Linda.
"Aduh.. Geli pak guru.. Geli sekali," Linda kegelian berusaha berontak.
"Geli
ya?, ya memang begitu, tahan sedikit ya," Mardi berhenti sebentar untuk
meyakinkan Linda, tapi jilatan itu dilanjutkan lagi setelah Linda
mengangguk. Puas menjilati telinga Linda, jilatan Mardi turun keleher
Linda, dan tangannya ikut turun juga mengusap dan sedikit meremasi susu
baru tumbuh milik Linda.
"Engghh geli pak guru..," Linda menepis tangan Mardi, Mardi pun menghentikan aktifitasnya.
"Eh kamu ini gimana sih? Mau pintar apa tidak?" kata Mardi sedikit melotot dan berlagak marah. Linda jadi takut.
"Iya pak, mau," jawab Linda tertunduk.
"Baiklah,
telingamu sudah bapak bersihkan. Nah sekarang kamu buka bajumu dan
mandi gih di kamar mandi itu, tapi jangan pakai sabun, biar bapak yang
nyabunin nanti. Mengerti?" Mardi memerintah lagi. Linda yang anak
kampung menurut saja, tak menaruh curiga.
Gebyar.. Gebyur.. Linda
mulai mandi telanjang. Pintu kamar mandi tak ditutup, dan Mardi
menikmati tubuh telanjang Linda dari pintu itu.
"Sudah pak guru, sekarang sabunnya mana?" tanya Linda.
Tubuh
Linda yang beranjak remaja membuat nafsu Mardi naik. Susu yang baru
tumbuh dan vagina Linda yang belum berbulu dipandangi Mardi bergantian,
lalu Mardi mendekati tubuh berkulit putih itu.
"Ehm.. Bapak sabuni badanmu ya," tanpa menunggu jawaban Linda, Mardi segera mengusapi tubuh Linda dengan sabun yang dipegangnya.
Tangan
Mardi mulai nakal dan menjamahi susu Linda, mengusap-usap dan menekan
nekan. Meski kegelian, Linda nggak berani melawan, takut dimarah pak
guru. Eh tangan Mardi lebih berani lagi mengusap di pangkal paha Linda
berkali-kali. Setelah puas menjamahi tubuh Linda, Mardi menyuruh Linda
menyelesaikan mandi, dan menyuruhnya melilitkan handuk saja setelah
selesai. Mardi menunggu diruang tamu.
"Saya sudah selesai mandi pak," Linda keluar kamar mandi dengan tubuh terbungkus handuk.
"Itu
baru pintar. Sekarang ikut bapak," kata Mardi dengan mata berbinar,
lalu mengamit tangan Linda dan menuntutnya masuk kekamar.
"Sekarang bobo'an disitu ya, biar bapak kasih ilmunya," suruh Mardi pada Linda, lagi-lagi Linda nurut saja.
Setelah
Linda berbaring di ranjangnya, Mardi mendekat dan duduk disamping kanan
ranjang itu. Tangan Mardi dengan terampil menghempaskan handuk yang
dikenakan Linda sehingga tubuh putih Linda yang baru mekar itu langsung
terpampang tanpa halangan dihadapan Mardi. Linda sedikit bingung melihat
perlakuan gurunya, tetapi gadis cilik itu tak berani protes. Jakun
leher Mardi naik turun memandangi susu ranum Linda yang putingnya masih
kecil dan tonjolannya pun belum sempurna. Lidah Mardi segera menyapu
bibirnya sendiri begitu matanya membentur selangkangan Linda yang ranum
belum ditumbuhi bulu.
Tangan Mardi menggerayangi tubuh Linda,
sementara Linda tak berkutik menahan geli. Kemudian Mardi naik keranjang
dan mulai menciumi tubuh telanjang Linda.
"Pakhh.. Geli pakhh," Linda menolak kepala Mardi saat lidah Mardi menjilati susunya.
"Uh..
Kamu ini gimana sih? Mau pintar apa tidak? Nilai kamu nanti bapak kasih
merah semua lho," Mardi mengancam dengan mata melotot.
"Iya deh pak, saya mau pintar.. Tapi geli pak," Linda pasrah akhirnya.
"Nah gitu donk, geli dikit ya ditahan..," ketus Mardi dan kembali mencumbui gadis bau kencur itu.
Linda
bukan main kegelian, apalagi selama ini belum pernah dijilatin susunya,
berpikir untuk itu pun belum karena usianya masih kecil. Tapi untuk
melawan ia tak mampu, selain takut sama Mardi, ia juga ingin mendapat
ilmu pintar dari gurunya itu. Jadi, Linda hanya bisa menggeliat sambil
terpekik kecil menahan perlakukan Mardi, hal itu membuat Mardi tambah
bernafsu melumati tiap jengkal tubuh Linda.
Ciuman dan jilatan
Mardi terus turun keperut dan selanjutnya turun lagi menuju selangkangan
Linda. Mardi berhenti sejenak, disingkapnya paha Linda agar lebih
mengangkang. Mata Mardi hampir loncat melihat vagina Linda yang sangat
indah. Gadis berusia 12 tahun itu memiliki vagina yang sip, bibirnya
tipis dan bersih tanpa bulu.
"Nah.. Linda, sekarang saatnya pak
guru menambah ilmu tadi biar kamu lebih pintar lagi," kata Mardi. Linda
tetap pasrah menerima perlakuan gurunya, dan menunggu apa yang akan
terjadi selanjutnya tanpa banyak tanya.
"Ahh pakhh..," Linda terpekik
tapi tak berani melawan saat lidah Mardi menjalari permukaan vaginanya.
Pinggulnya hanya bisa bergerak kecil menahan geli yang sangat dijilati
Mardi.
"Sakit ya Lin?" tanya Mardi ditengah jilatannya.
"Engghaak Pakhh.. Cuma gelii..," jawab Linda.
Jilatan
Mardi diteruskan, dan lama-lama Linda merasakan perasaan yang selama
ini belum pernah dirasanya. Geli itu berubah menjadi rasa nikmat yang
sensasional bagi Linda. Cairan kental mulai merembes dari vagina Linda,
lidah Mardi menerima cairan itu dan melanjutkannya, cairan itu ditelan
Mardi. Sore itu Mardi benar-benar mempraktekan fore play yang
ditontonnya di VCD porno, kepada Linda muridnya. Lidahnya makin berani
menelusup dibelahan bibir vagina Linda.
"Ahh.. Pakk Ghuuruu..
Linda pingin pipisshh pakhh..," Linda merasakan seluruh sendi
dibokongnya kejang dan terasa enak, tanda-tanda orgasmenya mulai muncul.
Mardi tak menyia-nyiakan kesempatan itu, vagina Linda semakin dilumat
dan disedot-sedot dengan bibirnya.
"Mmmphhff.. Ahh hayoo.. Pipiss aja
Linn.. Mmffphh," Mardi menambah jilatannya divagina Linda, sampai tubuh
Linda tersentak-sentak menahan geli.
"Ahh.. Iyaa.. Linndaa piipisss
Pakhhh... Uhhh.. Pipiss.. Tuhhh.. Aahhh," Linda kejang beberapa kali.
Orgasme pertama yang dirasakannya membuat Linda melambung kenikmatan.
Mardi pun menghentikan aksi jilatnya.
"Sakit ya Linn?" tanyanya memandangi wajah Linda yang semakin ayu dilihat.
"Eh..
Enggak paakk.. Bapak jangan marah ya, Linda pipis dimulutnya bapak..
Habis Linda nggak tahan geli sekali sih," Linda takut kalau Mardi marah,
cairan nikmatnya itu disangka air kencing.
"Bapak nggak marah, tapi apa yang kau rasakan tadi?" Mardi memancing Linda.
"Enggh.. Geli pak,"
"Enak nggak,"
"Iya.. Geli tapi enak pak," jawab Linda malu.
Mardi kini berdiri dan membuka seluruh pakaiannya, telanjang bulat dihadapan muridnya yang bugil.
"Nah
Linda, sekarang penutupannya. Kamu akan dapatkan ilmu pintar itu
setelah melakukan tugas ini," kata Mardi sambil memegangi penisnya yang
tegang.
Linda sangat malu melihat gurunya telanjang, soalnya
belum pernah lihat burung kecuali burungnya Anto, adiknya. Tapi Linda
nggak berani melawan. Mardi kemudian menyuruh Linda berdiri berhadapan
dengannya, lalu Mardi meminta Linda mengisapi burungnya.
"Kamu
sekarang isap burung bapak ini ya.., sama seperti tapi bapak jilatin
pepek kamu, ayo cepat gih," kata Mardi sambil menuntut kepala Linda
merunduk mendekat ke penisnya.
"I... ii.. ya pak," Linda menurut. Bibir mungilnya mengecup penis Mardi dan lidahnya menjilat.
Begitu
Linda memasukan penis Mardi kemulutnya, Mardi langsung mencengkeram
rambut Linda dan menggerakan kepala Linda maju mundur sehingga mulut
Linda bergerak mengoral penis gurunya.
"Ohh nikmaatnya Lin..,
ahh.. Ayo teruskan muridku.. Ohhh," Mardi merasakan nikmat luar biasa.
Baru kali ini ia merasakan sensasi dioral anunya. Hal itu berjalan
sepuluh menit, sampai akhirnya tubuh Mardi mengejang dan penisnya
menyemburkan sperma perjakanya menyemprot kewajah Linda.
"Ouhh.. Linndaa.. Ohhh.. Enghh.. Ohhh," Mardi agak berteriak menahan nikmat itu.
Sementara
Linda bingung memandangi muncratnya air kental yang sebagain mengenai
wajahnya. Setelah itu Mardi membersihkan wajah Linda pakai handuk yang
tadi dipakai Linda. Mardi pun menciumi wajah Linda, sambil memeluk gadis
cilik itu, sementara Linda bingung harus berbuat apa.
"Terima kasih ya muridku..," kata Mardi.
"Kok
bapak yang terima kasih? Kan saya yang dapat ilmu pintar, saya yang
harus terima kasih pak," Linda memang lugu, tangan Mardi diamit dan
diciumnyua penuh hormat.
"Oh iya ya.. Sekarang kamu sudah pintar, nah
pakai lagi gih bajunya dan kamu boleh pulang. Tapi ingat, jangan bilang
ke orang lain ya kalau kamu dapat ilmu dari bapak," perintah Mardi.
Sebenarnya
saat itu Mardi ingin sekali menyetubuhi Linda, tetapi ia takut jika
ketahuan orang. Apalagi Linda masih kecil dan pasti akan kesakitan jika
disetubuhi paksa. Setelah Linda pulang, Mardi kembali memikirkan cara
agar bisa menyetubuhi anak itu dilain kesempatan.
*****
Dua hari setelah kejadian itu, Mardi kembali dapat jadwal mengajar Matematika di kelas 1A, kelasnya Linda.
"Ayo
Linda, sekarang kamu kerjakan tugas ini dipapan," lagi-lagi Mardi
menyuruh Linda maju. Hari itu, Mardi sengaja memberi tugas yang mudah
agar bisa terjawab oleh Linda.
"Sudah selesai pak," kata Linda
setelah menyelesaikan tugas dipapan tulis. Mardi bangkit dan memeriksa
tugas yang dikerjakan Linda.
"Ya.. Benar, dan ini juga betul. Wah,
kamu pintar sekali Linda," Mardi sengaja memuji, murid yang lain
bertepuk tangan disuruh Mardi.
"Nah karena pintar sekarang bapak
kasih hadiah, ayo sini bapak gendong," Mardi segera menggendong Linda.
Tapi tangan Mardi yang menopang bokong Linda bergerak-gerak nakal
mengusapi vital Linda, selama Linda digendongnya.
"Anak-anak, kalau
kalian sepintar Linda, maka pak guru pun akan gendong kalian seperti
ini. Makanya belajar ya anak-anak," kata Mardi.
"Yaaa.. Pakk," sahut muridnya serempak. Setelah itu Mardi menurunkan tubuh Linda dan pelajaran kembali dilanjutkan di kelas itu.
Hari itu pelajaran Matematika adalah pelajaran terakhir di kelas 1A, dan setelah itu mereka boleh pulang.
"Pak..,
saya mau berterima kasih sekali lagi dikasih ilmu sama bapak," Linda
menghampiri Mardi setelah semua murid kelas 1A keluar kelas.
"Oh,
iya.. Iya.. Yang penting kamu harus jaga rahasia ya supaya cuma kamu
yang pintar," Mardi tersenyum melihat kebodohan dan keluguan muridnya
itu.
"Emm.. Anu pak, PR yang bapak kasih tadi agak sulit buat saya.
Bagaimana supaya saya bisa menjawab PR itu pak..?" tanya Linda lagi.
"Duh
Linda, kamu kan sudah pintar.. Atau begini saja, nanti sore kamu datang
lagi kerumah bapak biar bapak bantu kerjain PR itu ya," pinta Mardi,
Mardi mulai berakal bulus untuk bisa menikmati tubuh Linda lagi. Linda
yang lugu, mengangguk lalu pulang.
Sore harinya, Linda datang
menemui Mardi di kompleks pengajar. Seperti sebelumnya dengan sikap
manis Mardi memperlakukan Linda bagai murid kesayangan, ia pun membantu
Linda mengerjakan PR yang diberinya sendiri.
"Wah. Ternyata gampang caranya ya pak," kata Linda senang setelah tugasnya selesai.
"Nah
Lin.. Sekarang kan masih sore, gimana kalau bapak kasih ilmu tambahan
lagi supaya kamu tambah pintar, mau nggak," Mardi mulai menjebak Linda.
"Mau.. Pak.. Mau," jawab Linda cepat, tanpa curiga.
"Kalau begitu kamu mandi lagi, kayak kemarin itu caranya kok," perintah Mardi.
Linda
menurut, dan kejadian sebelumnya terulang lagi, Linda mandi disabuni
Mardi, lalu mengenakan handuk berbaring diranjang kamar Mardi. Tubuh
Linda mengelinjang dijilati Mardi. Bedanya, kali ini Mardi pun telanjang
bulat, siap menyenggamai Linda.
"Ahhh pakhh.. Geli pakhh..," Linda menggelinjang menahan geli dijilati Mardi dibagian vaginanya.
"Geli sakit apa geli enak Lin..?" Mardi menanyakan itu sambil terus menjilati vagina Linda.
"Engghh ahh.. Gelii ehh.. Geli ennakkh pakhh," Linda meringis menahan kenikmatan itu.
Mardi
berusaha memperlakukan Linda dengan baik seperti di VCD yang
ditontonnya. Tangan Mardi menyibak bibir vagina Linda dan lidahnya
menyasar klitoris Linda yang masih kecil dan kencang. Saat klitorisnya
dipermainkan lidah pak guru, Linda merasakan nikmat sekali, geli dan
nikmat tepatnya. Betul juga perkiraan Mardi, wanita seusia Linda memang
sudah bisa menerima rangsangan seksual. Bukankah wanita jaman dulu kawin
diusia belasan seperti Linda? begitu pikir Mardi. Sambil mempermainkan
klitoris Linda, Mardi mengamit tangan Linda dan menuntunnya memegang
rambut Mardi.
"Uhh pakhh.. Linnda pinginn pipisss.. Ouhh," tangan
Linda yang sudah samapi dikepala Mardi langsung meremasi rambut Mardi,
pinggulnya bergoyang dengan paha mengapit kepala Mardi.
Mardi tak
ingin ketinggalan Linda, saat Linda berkata ingin pipis, Mardi segera
menghentikan aktifitasnya. Pertimbangan Mardi tepat, saat itu Linda
sudah terbakar birahi pula, dan cairan yang keluar dari vagina Linda
menunjukan kegatalan yang sangat pada vagina Linda.
"Lin..
Pipisnya nanti aja ya, ditahan dulu. Sekarang bapak kasih ilmu lainnya,"
Mardi kemudian menindih tubuh Linda, tetapi tangannya menopang agar
Linda tak sesak napas.
"Ohh.. Pak, saya mau diapain lagi?" Linda bingung apa mau gurunya itu.
"Bapak
mau kasih ilmunya lagi, tapi Linda tahan dikit ya," kata Mardi,
tangannya menggenggam penisnya yang sudah tegang dan menepatkan ujungnya
ke bibir vagina Linda, lalu menggesek-gesekan ujung penis itu ke bibir
vagina Linda. Linda tak merasakan sakit pada vitalnya karena Mardi hanya
mengesekan dipermukaan saja.
"Ahh.. Geli Pakk," Linda malah merasa geli dan nikmat digesek anunya Mardi.
"Enak nggak Lin?" Mardi mulai menciumi susu Linda bergantian kanan-kiri.
"Ohh iyyah, enak pak..," Linda mulai tersengal.
Merasa
Linda sudah dipenuhi birahi, Mardi kemudian menekan pinggulnya
perlahan, setahap demi setahap sambil terus menggesekan penis itu
kepermukaan vagina Linda.
"Auhh.. Sakit pakhh.. Ouhh," Linda
terpekik saat Mardi sedikit menekan pinngulnya. Ujung penis Mardi tepat
terjepit dibibir vagina Linda yang sempit.
"Sakit ya Lin.., kalau begini gimana," Mardi menghentikan tekanannya dan kembali menggesekan penisnya dipermukaan vagina Linda.
"Nah..
Itu nggak pak.. Kok tadi sakit ya.., ouhh sakit lagi pakk," Linda
kembali meringis saat Mardi kembali menekan penisnya berusaha menerobos
perawan Linda. Kepala penis Mardi sudah berhasil masuk kebelahan vagina
Linda, tetapi untuk menekan lebih jauh Mardi takut Linda kesakitan.
"Masih
sakit sayang..?" Mardi sudah tak tahan ingin menggenjot Linda, tetapi
masih ragu dan takut. Mardi hanya memompa kepala penisnya masuk keluar
ke permukaan liang nikmat Linda.
"Iya pak agak sakit, tapi sekarang
enak.., ahhh.. Sakit sekalii pakhhh ouhh," Linda meringis sejadinya,
saat itu Mardi tak bisa lagi menahan nafsunya, penisnya ditekan lagi
menerobos vagina Linda yang masih sempit. Penis Mardi masuk sampai
separuh mengoyak selaput dara Linda, kini cairan bening kental bercampur
bercak darah dari vagina Linda.
"Ahh.. Ampuunn sakitt pakk..,"
Linda berusaha mendorong tubuh Mardi, tetapi Mardi justru menekan lebih
kuat, membuat penisnya terbenam separuh di vagina Linda.
"Tahan dikit Lin.. Hampir selesai, gini sakit nggak," penis yang terbenam separuh dibiarkan Mardi tak digerakan.
"Ouhh..
Iya Pakk.. Sekarang nggak sakit, kalau pelan nggak sakit pak," Linda
merasa sakit divaginanya mulai hilang, dan Mardi mulai menggerakan
pinggulnya naik turun perlahan.
"Sakit Lin..?.. Ouhh enak sekali pepeknya Lin..," Mardi kenikmatan poenisnya dijepiti vagina Linda yang rapat.
"Ouh..
Pelan saja pak.. Ohh.. Linda enakk pakkk," Linda tak lagi merasa sakit,
Mardi lebih berani menghujamkan penisnya lebih dalam. Tapi setiap Linda
meringis sakit, Mardi menghentikan sejenak, lalu lanjut lagi. Lima
belas menit setelah itu, Linda tak lagi merasakan sakit, sakit itu kini
berubah total menjadi nikmat yang belum pernah diterima Linda selama
ini, juga Mardi yang masih ngejomblo.
"Gimana Linda.. Enak sekarang.. Ouhh.. Enakk sekali pepekmu Linn..," Mardi menggenjot Linda dengan gerakan pelan.
"Ouhh pakkhh.. Enakk pakhh, sekarang kok enakhh ahh," Linda dan Mardi merasakan nikmat yang sama.
"Pakhh
Lindaa.. Mau pipisshh.. Ouhh.. Pakhhh uhhh.. Pipis Linda tuhh... Ahhh,"
beberapa menit kemudian Linda mencapai orgasme, tubuhnya sampai
menggelinjang dan kejang-kejang.
"Ouhh Linnn.. Ouhhh... Ohhh..
Nikmatnyahh... Oh.. Ouhh," Mardi pun klimaks, semburan spermanya
membasahi vagina Linda. Begitulah, Mardi akhirnya bisa memerawani Linda
sekaligus menyerahkan perjakannya pada Linda. Setelah beristirahat
sejenak, Mardi menyuruh Linda mengenakan pakaiannya lagi dan menyuruhnya
pulang.
Dengan alasan memberikan ilmu pintar, guru bejad Mardi
berhasil memetik belasan perawan bocah ingusan, yang rata-rata muridnya.
Selama dua tahun Mardi sukses menjalankan aksi bejadnya itu. Sial bagi
Mardi, kelakuannya membobol perawan belasan muridnya terungkap saat ia
berniat mengerjai Putri, anak bu Wasti yang juga guru disana. Putri
berceloteh pada ibunya, dan Wasti pun melaporkan Mardi ke Polisi.
Setelah Mardi ditangkap, orang tua belasan murid yang menjadi korban
termasuk Linda turut melaporkan Mardi. Mardi pun diproses dan kini
mendekam di Lapas sebagai terpidana 8 tahun penjara. ***
No comments:
Post a Comment