Pap Smear
Seorang sahabat tiba-tiba mengungkapkan kecemasannya akan kemungkinan terkena kanker rahim, dan dia ingin memeriksakan diri ke dokter namun belum berani. Sahabat ini memiliki riwayat keluarga yang berisiko tinggi terhadap kanker. Diri ini pun teringat bahwa sudah waktunya juga memeriksakan ulang kesehatan leher rahim (cervix) yang memang seharusnya rutin dilakukan minimal dua tahun sekali. Pemeriksaan cervix berupa tes sederhana umumnya dikenal dengan pap smear. Perempuan yang pernah melakukan hubungan seks tentunya juga diharapkan memiliki kesadaran untuk rutin mengecek kesehatan rahimnya.
Ada pengalaman pribadi yang cukup menarik untuk menjadi pelajaran, yakni saat menjelang pap smear kita akan diminta mengisi lembaran formulir data diri yang salah satunya berupa pilihan sudah menikah ataupun belum menikah. Nah sesuai KTP yang selama ini dikantongi, saya pun menorehkan tanda pada pilihan belum menikah. Lalu yang terjadi adalah, petugas administrasi memanggil ulang saya dan sekali lagi menanyakan apakah benar saya belum menikah. Saya dengan lugunya tetap bilang, ”Belum, Bu”. Kemudian ibu ini berkata bahwa pap smear biasanya hanya untuk orang yang sudah menikah. Saya bingung dengan pernyataan petugas tersebut, namun dengan tetap sopan petugas tersebut meminta saya duduk kembali untuk menunggu. Setelah itu diri ini pun dipanggil ke ruangan dokter, sang dokter yang kebetulan perempuan, tersenyum ramah menerima kehadiran diri ini. Setelah itu dialog standar pun terjadi:
”Betul mbak belum menikah?”
”Belum, Dok”
”Tapi apakah pernah berhubungan badan”
”Oh, pernah, Dok”
”Sekarang apa masih berhubungan dengan pria tersebut?”
”Uhmmmm.....” (Saya tidak cepat tanggap dengan bagian ini....)
”Aktivitas seksual terakhir?”
”Beberapa waktu lalu, Dok”
”Oke, kita akan melakukan pemeriksaan.”
Saya masih sempat penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan bu dokter tadi, namun segera teralihkan oleh celetukan unik dari sang perawat yang menyiapkan diri saya di tempat tidur pemeriksaan:
”Kalau masih perawan memang tidak boleh diperiksa. Begitulah laki-laki, kalau tidak diikat ya memang akan ditinggal, sudah dapat maunya, ya pergi begitu saja.”
Senyum pun melebar saat mendengar penggalan kata-kata terakhir sang perawat. Oh rupaya di rumah sakit ini masih ada juga anggapan bahwa perempuan yang sudah kehilangan virginitasnya, pasti dikarenakan kaum pria. Saya menahan senyum yang makin menyeringai membayangkan pikiran dan sangkaan para petugas para medis tersebut.
Menelaah pengalaman tersebut, saya agak sedikit paham, isu kesehatan kanker rahim memang cenderung dilekatkan pada perempuan yang sudah menikah, atau pada perempuan PSK. Sehingga perempuan yang berpenampilan baik-baik, dan belum menikah, pasti akan dipertanyakan lebih detail. Padahal perempuan belum menikah, kaum lajang, termasuk lesbian yang aktif berkegiatan seksual pun harus memeriksakan kesehatan rahimnya secara rutin, sebagai upaya mencegah dan mengetahui secara dini apabila berpotensi terkena kanker rahim.
Prosedur pap smear itu sendiri tidak sulit, bisa dibilang sederhana yakni pemeriksaan sebaiknya dilakukan 2 minggu setelah hari terakhir menstruasi, selain itu 24 jam sebelum pemeriksaan diminta untuk tidak melakukan hubungan badan yang melibatkan wilayah vagina. Aktivitas seksual semacam lips kissing ataupun berpelukan mesra tentu saja bukan suatu larangan. Proses pap smear yang dilakukan di ruangan medis pun pun sangat singkat, tak lebih dari 3 menit. Namun memang untuk menuju ke lokasi rumah sakit itu sendiri yang biasanya menjadi saat tidak menyenangkan, termasuk pada diri saya pribadi yang sangat tidak suka dengan suasana rumah sakit.
Pertama kali saya melakukan pemeriksaan ini pun berdua dengan pasangan, yang awalnya juga sedikit memaksa diri ini untuk berkesadaran terhadap kesehatan rahim (Thanks to her for encouraging me). Tips bagi lajang lesbian yang hendak melakukan pap smear, khususnya saat mengisi formulir data diri, pada bagian pilihan tidak menikah, di sampingnya perlu ditulis dalam kurung pesan singkat ”Aktif berkegiatan seks”. Tentu saja ini pun akan ada risikonya, kita pun akan tetap ditanya oleh sang dokter seberapa aktifnya, dan apakah berginta-ganti pasangan, tetapi paling tidak, petugas admistrasi tidak perlu memanggil ulang diri kita. ☺








No comments:
Post a Comment