- Gimana pendapat anda dengan onani dipandang dari segi kedokteran dan kesehatan?
JAWABAN :
SEKS? Satu kata yang masih membutuhkan waktu untuk kita berani berbicara dan membuka
tabirnya sesuai dengan tingkat kepentingan dan pendidikan ilmu pengetahuan terutama
ditengah lingkungan budaya kita yang masih kental dengan norma moral dan aturan
ketimuran yang harus tetap dijaga dan dijunjung tinggi. Karena hidup adalah suatu
pilihan, akhirnya kita mesti memilih, Ilmu atau Tabu?
Informasi mengenai pendidikan “SEKS” akhir-akhir ini sudah mulai masuk dalam kehidupan
remaja, tidak terlepas dari pengamatan di lapangan bahwa remaja masih banyak yang
tidak mengetahui tentang makna Pendidikan Seks secara medis sehingga terjebak ke
dalam mitos-mitos seks yang secara medis tidak terbukti kebenarannya dan cenderung
merugikan. Tanpa disadari usia remaja merupakan usia dimana dimulainya suatu fase
yang sangat rentan untuk mengenal dan memulai perilaku seks dini dan seks bebas
dikarenakan telah aktifnya hormon seksual (estrogen dan progesterone) didalam tubuh
yang ditandai dengan siklus menstruasi (perempuan) dan mimpi basah (laki-laki) untuk
yang pertama kalinya. Jika tidak terkontrol dan tidak dibekali ilmu secara medis
dan mendapat dukungan serta perhatian dari keluarga dan pendidikan formal, tanpa
pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya, ada suatu dampak yang sangat mengancam
kelangsungan kesehatannya di masa mendatang akibat perilaku seks dini dan seks bebas
tersebut.
Apa sebenarnya SEKS itu? Seks memiliki arti yang sangat sederhana yakni berarti
jenis kelamin, yaitu suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan.
Seks berkembang menjadi berbagai pengertian apabila disertai dengan penambahan “kata”
seperti Perilaku seksual yakni segala bentuk perilaku yang muncul berkaitan dengan
dorongan seksual, dan Hubungan seks yang mempunyai arti hubungan dua jenis kelamin
sebagai salah satu bentuk kegiatan penyaluran dorongan seksual tersebut.
Secara singkat muncul pertanyaan, apa sih untungnya seks untuk remaja? Jika hanya
sebatas perkataan “seks” tentunya bisa kita lihat dari arti medis “seks” itu sendiri
bahwa remaja harus tahu apa saja yang dia miliki yang berkaitan dengan organ reproduksinya.
Kesehatan organ reproduksi sebaiknya harus diperhatikan sejak mereka memulai fase
pubertas karena penyakit atau keluhan yang muncul nantinya disaat mereka beranjak
dewasa terutama mulai masuk fase pernikahan bukanlah penyakit atau keluhan yang
datang secara instan akan tetapi merupakan akumulasi atau perilaku tidak sehat sejak
remaja baik itu dalam perilaku sehari-hari secara umum terlebih perilaku seksnya
dimasa lalu.
Perilaku seks dini dan seks bebas pada usia remaja mempunyai resiko medis sesuai
dengan jenis kelaminnya. Meskipun banyak resikonya, yang menjadi perhatian khusus
untuk Resiko Perilaku Seks Bebas pada Laki-laki : penularan penyakit kelamin
(kencing nanah, sphylis, herpes kelamin, HIV – AIDS, dan masih banyak lagi) yang
mana penyakit kelamin ini bisa menyebabkan terganggunya kesehatan organ reproduksi
(kanker testis,kanker prostat, sperma tidak subur) – kelumpuhan - kemandulan bahkan
kematian jika tidak diterapi dengan cepat dan tepat.
Resiko Perilaku Seks Bebas pada Perempuan berupa : penularan penyakit kelamin
(kencing nanah, sphylis, herpes kelamin, HIV – AIDS, dan masih banyak lagi) yang
mana penyakit kelamin ini bisa menyebabkan terganggunya kesehatan organ reproduksi
terlebih organ reproduksi perempuan yang belum terbentuk sempurna apabila masih
dibawah usia 20 tahun sehingga sangat mudah mengalami perlukaan pada otot-otot dinding
vagina dan mulut rahim – lebih sensitive terhadap kontak kuman terutama kuman akibat
kontak seksual, hal inilah yang menguatkan akan semakin bertambahnya resiko perilaku
seks bebas lainnya terutama resiko terjadinya Kanker Serviks (penyebab kematian
nomor satu di Indonesia) menjadi 2-3 lipat jika seorang perempuan dibawah usia 17
tahun pernah melakukan hubungan seks bebas terlebih lagi berganti-ganti pasangan.
Selain itu kehamilan dini dibawah usia 20 tahun meningkatkan resiko keguguran saat
kehamilan dan perdarahan hebat saat persalinan bahkan kematian. Terjadi kenaikan
angka perilaku aborsi juga tak terhindari dikarenakan Kehamilan Yang Tidak Diiinginkan
(KTD) dimana dampak aborsi dapat meningkatkan angka kejadian kanker di organ reproduksi,
kemandulan dan kematian.
Perilaku seksual yang belakangan ini cenderung akrab dilakukan remaja dan kerap
ditanyakan apakah ada manfaat atau keburukan dibalik perilaku tersebut yakni Perilaku
Onani dan Masturbasi. Secara medis, Onani merupakan istilah yang digunakan untuk
pelaku laki-laki, sebaliknya Masturbasi untuk pelaku perempuan. Onani dan masturbasi
merupakan perilaku seksual dengan cara merangsang sendiri daerah intim dan daerah
sensitive pribadi tanpa disertai dengan hubungan intim atau senggama dengan tujuan
untuk mendapatkan kepuasan seksual bahkan orgasme (puncak kenikmatan seksual) sesuai
fungsi seksual jenis kelaminnya. Sejauh ini onani dan masturbasi memang erat dengan
perilaku remaja atau seseorang yang notabene belum menikah meski tidak terlepas
kemungkinan orang dewasa yang sudah menikah ada yang melakukannya. Munculnya rangsangan
yang berbau seksual dari segala arah (visual dan audio yang terbanyak) ditambah
tidak bisa mengkontrol diri terhadap rangsangan yang datang baik secara tidak sengaja
apalagi yang sengaja dicari, membuat remaja melakukan hal untuk melepaskan ketegangan
seksualnya melalui cara onani dan masturbasi tersebut.
Penilaian dari sisi kesehatan secara umum akan dampak perilaku onani tentunya berbeda
dengan masturbasi karena dilatarbelakangi fungsi seksual dan organ reproduksinya
berbeda. Meski sebagian besar medis berpendapat bahwa onani dan masturbasi merupakan
perilaku yang wajar, namun batasannya adalah apabila perilaku ini tidak terjebak
kedalam situasi “ketergantungan” sehingga dikhawatirkan seseorang akan lebih menyukai
aktivitas seks sendiri dibandingkan dengan pasangannya dikemudian hari saat telah
menikah.
Dampak onani (pada laki-laki) secara langsung apalagi yang ketergantungan biasanya
menimbulkan rasa lelah, mengantuk, badan terasa pegal yang berlebihan bahkan bisa
menimbulkan iritasi pada daerah intim yang dirangsang dan tergantung dari “alat”
yang digunakan saat melakukan onani, namun yang menjadi perhatian besar saat ini
adalah dampak jangka panjangnya disaat seorang laki-laki sudah berumahtangga akan
mengalami gangguan fungsi seksual berupa sulit mencapai klimaks saat berhubungan
seks atau justru mempercepat ejakulasi atau ejakulasi dini karena sudah terbiasa
mendapatkan kepuasan seksual dengan aktifitas sendiri saja.
Dampak masturbasi (pada perempuan) secara langsung bisa mengakibatkan munculnya
infeksi di vagina karena pada dasarnya vagina sangat sensitive sehingga perlakuan
seperti memasukkan sesuatu yang tidak diperhatikan kebersihannya (baik itu jari
terlebih alat bantu yang ekstrim) akan memudahkan vagina mengalami iritasi, gatal-gatal,
kemerahan pada bibir vagina, keputihan tidak normal, robeknya selaput dara, perdarahan
akibat pecahnya pembuluh darah karena pergesekan yang terjadi didalam lubang vagina
oleh “alat bantu” saat melakukan masturbasi. Dampak ini jika tidak segera diatasi
atau diobati secara medis, kemungkinan besar infeksi akan bertambah berat sehingga
tidak menutup kemungkinan akan muncul keluhan penyakit yang lebih berbahaya bagi
organ reproduksi perempuan yakni kanker bahkan kemandulan.
Untuk remaja atau seseorang yang belum menikah, meski dari sudut pandang medis masih
ada yang mengatakan wajar perilaku onani dan masturbasi secara umum, namun jangan
sampai terjebak ke dalam sugesti ketergantungan sehingga Anda sulit melepas perilaku
ini, maka dimulailah untuk mengurangi perilaku onani-masturbasi dan kontrol kebiasaan
ini jangan sampai merugikan Anda saat ini terlebih dikemudian hari setelah Anda
berpasangan.
Adapun usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan mengkontrol dorongan seksual
seseorang untuk melakukan onani-masturbasi adalah dengan memperbanyak aktifitas
positif, ibadah, sosialisasi dengan lingkungan yang sehat dan sebisa mungkin hindari
waktu kosong yang bukan merupakan waktu Anda untuk benar-benar istirahat atau tidur
dan kunci kata adalah kontrol diri dan perbanyak ilmu pengetahuan akan tubuh Anda
sehingga Anda bisa lebih bijaksana dalam mengambil sikap jika sewaktu-waktu terjebak
didalam pilihan ‘ya’ atau ‘tidak’ untuk onani-masturbasi ini.
No comments:
Post a Comment