Petting pertama aku ma cewe aku, kedua-duanya baru pertama kali, lumayan
berkesan, n rasanya ingin lebih dari itu... Bukannya sok suci atau
bagaimana, namun kalau sudah terlanjur jauh, lebih baik diredam, Iman
kita harus kuat, namun si "imin" kita juga harus senantiasa dilatih,
agar tidak berakibat fatal nanti, hehehehhe...
Ceritanya begini, Kami
menjadi dekat setelah dikenalkan oleh seorang temanku. Awal smsan hanya
membahas hal – hal biasa saja. Semakin lama kami semakin dekat. Semula
ER tidak pernah mau untuk membahas hal – hal yang berbau porno.
Alasannya tidak baik; belum boleh; tidak ada gunanya dll. Akupun
mengurangi frekuensi sms tersebut. Tapi akhirnya ia menyerah setelah aku
mengemukakan pendapatku, tetapi ER meminta masih dalam kategori ringan.
Setelah hubungan kami berjalan beberapa bulan, ER – pun sudah
memberanikan diri membalas smsku yang dulu ia membencinya.
Aku
maklum jika semula ER tidak mau membahas hal – hal pornografi, karena ia
tidak pernah membahas dan melakukan sewaktu dengan pacar – pacarnya
dahulu. Bahkan berciuman pun ER tidak mengijinkan. Kami telah beberapa
kali berciuman tetapi kulihat ER masih bisa menahan diri. Sore itu aku
menjemputnya. Kebetulan rumah sedang kosong. Tidak ada niat sebelumnya
untuk ber – hohohihe. Saat itu kami sedang di salah satu mall dekat
rumah. ER ingat bahwa rumahku dekat dengan mall tersebut. Ia mengajakku
untuk sekedar lewat depan rumahku.
Kami – pun sampai di depan
rumahku. Aku menawarinya untuk sekaligus melihat – lihat keadaan dalam
rumahku dan ER tidak berkeberatan. Aku membuatkan es teh kesukaannya
sementara ER memandangi foto – foto keluarga di dinding. Kami mengobrol
ini itu. Sesekali aku berhasil mengajaknya tertawa. Aku mendekati ER
yang duduk terpisah. Kupandangi matanya. Aku memegang dagunya, kucium
lembut bibirnya. ER membalas tetapi masih wajar. Iseng kumasukkan lidah
dan kudesakkan ke langit – langit mulutnya. ER membalas yang sama.
Lambat laun nafasnya makin memburu. Kepalaku dipegang kuat, sesekali di
dua pipiku. ER ternyata murid yang dapat menyerap pelajaran dengan
cepat.
Tak kuduga telapak kiriku ditarik ke dada kanannya. ER
membuka mata saat aku menahannya yang tinggal sedikit lagi menyentuh
dadanya. “Nggak pa2 koko..aku kan yg minta..”, sambil tersenyum. “Bener
gak pa2..”, tanyaku. ER tidak menjawab tapi menarik telapak kiriku yang
beberapa saat tergantung di udara. ER menatap mataku dalam – dalam saat
dadanya untuk pertama kalinya disentuh oleh lawan jenisnya. Aku hanya
menyentuh dada kanannya tetapi ER yang malah meremasnya seakan merestui
aku untuk melakukannya sendiri. ER melepas tangan kanannya dan
meninggalkan telapak kiriku di dada kanannya. Aku meremasnya lembut dan
pelan – pelan. Kepalaku ditariknya dan bibirnya ganas menciumiku. Aku
meningkatkan tekanan dan kecepatan remasanku. Telapak kananku ditariknya
pula. Akhirnya dua telapak tanganku berada di dua susunya. Aku meremas
kadang pelan kadang kuat.
Terbersit keinginan untuk menyentuh
kelaminnya walau dari celana kainnya. Tetapi masih kutahan, karena
mungkin ada beberapa tindakan yang akan dilakukannya jika ia menolaknya.
Yang paling parah ER marah besar dan memutus hubungan kami. Tapi setan
dalam hal ini selalu mesti menang. Kuberanikan diri. Telapak kananku
kudekatkan pelan – pelan ke bagian tengah celananya. Kusentuh tepat di
tengahnya. ER tidak protes dan marah sedikitpun. Kutekan dan kugosok –
gosok pelan – pelan dulu. Tangan kiriku masih di dada kanannya. Sesekali
tangan kananku diremasnya. Nafas ER semakin terengah –engah. Kepalang
tanggung, “Yank..pindah tempat yuk..”. “Ke mana koko...”. Aku
menggandengnya menuju sofa di pojok ruangan.
Setengah badannya
kubaringkan. Kembali kuserang dengan ciuman – ciumanku. Tangan kananku
di dada kirinya, sedang yang kiri menggosok – gosok bagian tengah
celananya. Lengan kananku kadang diremas kuat. Tangan kirinya kuletakkan
di paha kiriku dan kubiarkan melihat reaksinya, dan ER meremas –
remasnya. Aku hentikan aktifitas meremas susunya, “Yank..boleh…”.
Sengaja kugantung kalimatku saat ER membuka matanya dan melihat kaosnya
akan kubuka. “Jangan koko..masukin aja tanganmu..”. Maka kumasukkan
tangan kananku ke dalam kaosnya. Terasa sudah mengeras dadanya.
“Ooofffssttt..”, lenguhannya keluar saat tangan kananku mengenai susu
kirinya. Kuremas lembut. Paha kiriku makin kuat dicengkeram ketika bh –
nya kuturunkan dan pentil kirinya kumainkan.
Aku mendekatkan paha
kiriku ke tangan kirinya. Tangan kiriku meletakkan tangan kirinya di
bagian celanaku yang sudah menonjol dari tadi. Beberapa detik tidak ada
reaksi. Antara takut dan malu ER mulai mengusap dan sesekali meremas
kelaminku dari celana luarku. Aku buka kait bh – nya..tess. ER tidak
memprotesnya malah retsluiting celanaku diturunkannya. Kontan aku
menarik dua tanganku dan menurunkan celana jeansku. Aku buka kaos dan bh
– nya. ER hanya memandangiku. Kukecup pentil kirinya dan kuputar –
putar dengan lidahku. ER mendesis dan mengusap – usap kepalaku.
Kulanjutkan dengan menggigit dan menyedotnya, bergantian kiri dan kanan.
Kadang yang kanan aku sedot, yang kiri aku remas – remas.
Tangan
kirinya yang ada di cd – ku makin kuat meremas dan mengusap. “Masukin
aja tanganmu Yank..”, aku memintanya. Perlahan tangan kirinya memasuki
cd – ku. Diusap dan sesekali diremasnya penisku. Sejenak aku berdiri
lalu kuturunkan cd – ku. Kini bagian bawah tubuhku telah bugil. ER yang
untuk pertama kalinya melihat alat kelamin pria dewasa, sejenak
mengamatinya. Kami menghentikan aktifitas seksual beberapa menit karena
ER banyak bertanya ini dan itu tentang penis dan vagina. Aku disuruhnya
duduk sementara ER duduk di lantai sambil memegangi penisku. Dikocoknya
pelan – pelan sesekali diremas kuat. Tiba – tiba bibirnya mendekati
penis dan mengecupnya. Dua detik kemudian penisku telah memasuki
mulutnya. “Yank..oohh..nggak usah..kamu kan belum pernah..”. ER tidak
menjawab, asyik mengemut dan mengocok penis yang berada di mulutnya.
Karena ER sendiri yang berkemauan maka aku juga tidak menyuruhnya untuk
berhenti. Aku usap – usap rambut dan pipinya.
“Udahan yuk..tapi
pindah ke kamar..mau yank..??”, aku memberanikan diri. “Terserah koko
aja..”. “Kalo nggak ya gak pa2..”. “Nggak pa2 koko..”. Kami mengenakan
pakaian kembali walau hanya sekenanya. Sesampai di kamar, aku menggelar
karpet tebal dan menata bantal. Kuajak ER duduk lalu kuciumi lagi.
Belakang kepalaku langsung dipegangnya saat lidahnya memasuki mulutku.
Dua tangannya membuka celana jeansku dan menurunkan cdnya sekalian. Aku
tak mau kalah. Kaosnya kubuka dan meremas – remas dua susunya, karena bh
– nya tidak dipakai. Penisku dikocoknya dengan semangat. Kaosku dibuka
dan dua pentilku diperlakukan seperti aku memperlakukan pentil –
pentilnya. aku direbahkan di karpet dengan bantal di kepalaku. Lidahnya
menari – nari di dada sedang tangan kanannya mengocok penisku. Sekarang
lidahnya turun ke pusar terus ke penis.
Bagaikan sedang menjilat
dan mengemut es krim, ER melakukannya pada penisku. Nafasnya bagai
mendaki bukit. Matanya semakin sayu. Aku bangun dan kubaringkan di
karpet dengan bantal menyangga kepalanya. Kuciumi bibir; mata; pipi;
leher lalu turun ke bawah. Kugigit dan kusedot dua pentilnya. Jari
jemari kananku mengusap – usap dan menekan vagina yang masih terbungkus
celana kain. Tangan kirinya langsung meremas dan ikut menekankan di
kelaminnya. Perlahan kumasukkan tangan kananku ke balik celananya.
Terasa rambut keriting dan kuperkirakan hanya sedikit. Tersentuh juga
garis tengah vaginanya yang telah basah. Sedikit terangkat tubuhnya,
“oouughhh..koohhh..”. kulanjutkan dengan menekannya lembut dan mengusap –
usapnya. Aku masih belum berani membuka celananya. Tekanan itu tak bisa
kutahan. Pelan aku turunkan celananya. ER memandangku, “Kenapa dibuka
Mas..”. Aku tak menjawabnya. ER mengangkat sedikit tubuh bawahnya.
“Yank..mo
ngrasain gimana orgasme itu..?”. “Gimana caranya..nga dimasukin kan
ko..?”. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. Kurebahkan tubuhku pelan
di atas tubuhnya. Aku cium lembut bibirnya saat kugerakkan pelan tubuh
bawahku. Dadaku menekan lembut dua gunung kembarnya. Aku posisikan tepat
penisku di vagina yang masih terbungkus cd. Secara santai aku maju
mundurkan dan kutekan – tekan penisku. Dua tangannya meremas pelan
pantatku. Semakin lama intensitas kecepatan kutingkatkan. Nafas ER sudah
ngos – ngosan. Bibirku diciumnya kuat. Aku pegang dua pahanya dan
kuminta dijepitkan di pinggangku. Aku gigit dan remas – remas dua
susunya. Sempat aku lirik jam dinding, sudah 10 menit sejak kami duduk
di karpet.
Tak berapa lama, “Yannnkkk…oohhh..ohhhsssttt..” , tangan
kirinya menekan pantatku sedang yang kanan mencengkeram punggungku dan
dua pahanya menjepit erat pinggangku. Punggung dan kepalaku diusap –
usapnya. “Kenapa Yank..kamu keluar..?”. “Nggak tau ko..rasanya enak dan
enteng..”. ER rupanya belum pernah merasakan dan tahu yang namanya
orgasme. Aku cium bibirnya dan kuusap – usap pipinya. “Iya..itu namanya
orgasme. Enak ya..aku ikut seneng”. Kami berpelukan mesra setelah aku
berguling disampingnya. Kami lalu berbincang dan tertawa, seakan tak ada
rintangan di depan nanti. Tangan kirinya menuju penis dan
menggenggamnya. “Kok kecil koko..”, sambil memainkannya. “Udah gak ada
rangsangan..makanya mengecil”. “Ooo..jadi harus ada rangsangan baru
membesar dan panjang kayak tadi..”.
Kemudian penisku diremas –
remas lembut dan diusap – usapnya. Lalu dikecup dan diemut. Tak menunggu
lama, senjata kebanggaanku sedikit demi sedikit mulai berdiri. ER makin
semangat melumatnya. Dua telurku tak luput digigit pelan. “Yank..mo
orgasme lagi..?”. ER memandangku, “mau ko..”. “Wah..jadi doyan ya
sekarang..”, aku menggodanya sambil nyengir. Penisku diremasnya kuat,
“yang ngajarin siapa lho..”. “Aduhh..sakit Yank..”, aku meringis
sedikit. ER merebahkan tubuh di atasku. Ia langsung menggerak – gerakkan
tubuh bawahnya. Bibirku dilumat habis. Aku mengimbangi dengan mengusap –
usap punggungnya dan meremas – remas pantatnya. Kumaju mundurkan
pantatnya kadang cepat kadang pelan, dan kusisipi dengan kutekan –
tekankan ke penisku. Matanya kian lama kian meredup. Kepalang basah, aku
bangun dan ganti kurebahkan ia. Kuturunkan cd – nya cepat. “Kok dibuka
cd – ku?”. “Kalo nggak mau gak pa2 kok Yank..”, aku membela diri. “Nggak
pa2 ko..”. Aku ambil lulur tubuh dan kubalurkan di penis. “Buat apa
ko..nggak panas tha..”. “Katanya mo orgasme lagi..sekarang nikmati aja
ya..”.
Kuletakkan penis tepat di tengah vagina, sedikit di atas.
“Jangan dimasukkin lho ya ko..”. “Nggak Yank..”. lalu aku menurunkan
tubuh. Penisku dan vaginanya terasa licin karena lulur. Membuat gerakan
dan gesekan menjadi lebih leluasa. “Enak Yank..?” “Enak ko..licin dan
anget2 gimana..”, ER tersenyum. Kami berciuman lagi. Susu kanannya
disodorkan ke bibirku yang langsung menyambutnya dengan menyedotnya.
Dalam 10 menit ke depan nafas kami saling berlomba. Pinggangku dipeluk
erat oleh dua pahanya. Aku menahan tubuh dengan meletakkan dua siku di
sisi kiri dan kanannya. Terasa makin hangat vaginanya. Penisku meluncur
di garis tengah vaginanya dengan lancar. Aku bangun dan untuk sesaat
kutekan penis tepat di lubang vaginanya. ER meringis, “sakit koo..”. Aku
menciumnya, “cma ngetes Yank..”.
Kupegang erat dua pahanya ke
atas. Aku gesek – gesekkan penis dengan cepat. ER semakin terengah –
engah. “koooo..ooofffsssttt..”, dua tanganku yang sedang memegang paha
kiri dan kanannya dicengkeramnya kuat. Penisku dijepit erat oleh dua
pahanya. Aku menundukkan tubuh, kami berciuman cepat. Tak berapa lama,”
Yankkk..emmpphhh..”. Penisku memancarkan air kenikmatan ke perutnya. Aku
menciumnya dalam dan lama. Kuusap cepat dengan kaosku karena hampir
menyusuri pinggangnya menuju karpet. Kami berpelukan lama dan saling
mengusap rambut. “Makasih ya koko..”. “Aku yang makasih..”. Lalu aku
menyuruhnya untuk segera membersihkan diri di kamar mandi, karena hari
sudah malam. Selama dalam perjalanan pulang ER diam saja, ternyata
begitu sampai rumahnya ia terbangun. “Ngantuk Mas..capek..”, begitu
alasannya.
Yank, laen kali kita gini aja ya, daripada aku ngocok
sendiri... percaya ma aku, aku akan menikah sama kamu yank... i love u
so much, ER, u are the only one for me. sampai sekarang (kejadian cerita
diatas, terjadi 1 tahun lalu) dia masih tetap virgin..
No comments:
Post a Comment