Friday, 22 June 2012

Virginitas Dan Selaput Dara

Perbincangan remaja saat ini cukup kompleks dan beragam, terlebih di zaman seperti ini sehingga tidak hanya masalah-masalah yang berkaitan dengan kepercayaan diri akan tinggi dan berat badan, ingin wajah mulus tanpa jerawat, perawatan tubuh, sakit di saat menstruasi, keputihan berlebihan, rambut yang selalu berketombe, bau badan, lembab di daerah intim, namun termasuk juga masalah keperawanan atau virginitas dan selaput dara.
Nilai agama dan moral untuk keperawanan masih sangat dijunjung tinggi terutama budaya timur seperti di Indonesia. Namun hal ini jangan sampai membuat kita salah dalam menilai arti keperawanan itu sendiri. Arti keperawanan secara harfiah medis adalah seorang perempuan yang belum pernah melakukan kontak seksual yakni berupa hubungan intim (penetrasi penis ke dalam lubang vagina). Dibalik itu terdapat pesan agama dan moral bahwa seorang perempuan harus bisa menjaga diri dari segala bentuk perilaku yang bisa membawanya kepada perilaku hubungan intim sesungguhnya, apapun itu bentuk perilaku seksual yang memang untuk remaja hukumnya dilarang oleh agama, medis dan sosial dikarenakan belum menikah.
Selain itu, tidak sedikit pula pemandangan yang sering mengidentikkan robeknya selaput dara dan darah dimalam pertama merupakan tanda bahwa si perempuan masih perawan sehingga terjadi kekhawatiran tidak hanya dari pihak pria namun terlebih bagi si wanita yang mengkhawatirkan apa jadinya jika dimalam pertama mereka tidak mengeluarkan darah, nanti dikira sudah tidak perawan sama suami sedangkan mereka sangat yakin tidak pernah melakukan hubungan intim sampai saat mereka menikah. Banyak pendapat yang akhirnya memberi “sebuah nilai” dari peristiwa keluarnya darah dimalam pertama atau saat pertama melakukan hubungan intim yang sering disebut dengan “darah perawan”. Dan tak terlepas dari itu tidak sedikit pasangan yang menjadi ragu akan sebuah kejujuran pasangannya dibanding dengan “nilai” darah yang mereka inginkan disaat malam pertama tersebut yang akhirnya merusak ikatan pernikahan. Disinilah diperlukan keterbukaan diri dalam mengkomunikasikan kejujuran seorang istri kepada pasangannya bahwa mereka tidak pernah melakukan hubungan intim sebelumnya dan akan sangat bijaksana apabila si suami menerima pengakuan kejujuran dari pasangannya.
Sebenarnya apa itu selaput dara dan dari mana datangnya darah saat hubungan intim? Bagaimana pula jika tidak mengeluarkan darah dan bagaimana melihat robek atau tidaknya selaput dara?
Darah perawan itu sebenarnya hanya mitos belaka. Wanita yang tidak mendapatkan rangsangan yang cukup dari pasangannya terlebih disaat pertama kali akan melakukan hubungan intim atau sedang berada dalam tekanan psikogenik (kejiwaan dan genetika) bisa saja mengalami pendarahan ketika ia memaksakan untuk tetap melakukan hubungan intim. Namun begitu, wanita yang benar-benar terangsang hasratnya dan terbebas dari beban psikologis, secara biologis otot-otot vagina yang bersifat elastis akan bekerja secara maksimal yang dibantu dengan produksi lubrikasi vagina sehingga akibat dari pergesekan antara penis dengan dinding vagina bisa saja tidak menimbulkan pendarahan vagina meski ia melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa istilah darah perawan hanyalah mitos belaka.
Selain keluar darah, keperawanan juga selalu diidentikkan dengan pecahnya selaput dara (yang telah menjadi mitos di masyarakat), padahal faktanya secara medis, robeknya selaput dara tidak harus diikuti dengan keluarnya bercak darah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab robek atau tidak robeknya selaput dara diantaranya;
  1. Selaput dara terlalu rapuh, bisa jadi selaput dara itu sudah robek sebelumnya karena terlalu rapuh.

  2. Kelewat elastis. Tidak adanya bercak darah di malam pertama mungkin saja disebabkan belum robeknya selaput dara karena sifatnya sangat elastis. Harap diketahui, membran ini sangat fleksibel. Pada beberapa kasus ditemukan bahwa elastisitas selaput dara memungkinkannya tidak robek pada waktu pertama kali berhubungan seksual. Bahkan ada yang baru robek setelah wanita tersebut melahirkan.

  3. Darahnya tidak banyak, atau bisa saja sebenarnya keluar bercak darah, tapi karena sangat sedikit sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Hal ini tergantung dari sedikit atau banyaknya embuluh darah yang pecah di dalam vagina. Banyak orang yang mengira kalau selaput dara robek akan keluar banyak darah. Padahal karena sedemikian tipisnya, selaput dara yang robek tidak selalu menyebabkan keluar darah dalam jumlah banyak.

  4. Tidak punya selaput dara, perkembangan teknologi memungkinkan dilakukannya penelitian tentang selaput dara secara mendalam. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan karena dalam penelitian yang dilakukan para seksolog ditemukan beberapa perempuan yang sejak lahir memang tidak memiliki membran ini. Pada kasus ini keberadaan selaput dara tidak selalu membuktikan bahwa wanita belum pernah melakukan hubungan seksual.
Dengan banyaknya penilaian yang telah ada di dalam pola pemikiran masyarakat kita tentang arti virginitas – darah perawan dan selaput dara, diharapkan dari segala lapisan usia tidak hanya remaja itu sendiri, namun orang dewasa dan orangtua serta pendidik saling bekerjasama untuk bisa berkomunikasi secara terbuka dan sehat serta mengkontrol perilaku seksual yang saat ini cukup memprihatinkan. Nilai agama-moral-sosial dan kesehatan yang tersirat didalam arti “keperawanan”, sampai kapanpun harus dan wajib kita junjung tinggi demi kebaikan generasi kita dimasa mendatang.

No comments:

Post a Comment